Meneladani Keikhlasan dan Kesabaran Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail Ketika Membangun Ka'bah

Kategori : Kajian, Ditulis pada : 17 Januari 2026, 12:57:56

Rendah hati dalam beramal merupakan teladan dari para nabi dan rasul. Sebagaimana dikisahkan dalam Al-Qur'an mengenai Nabi Ibrahim 'Alaihissalam dan putranya, Nabi Ismail 'Alaihissalam, saat membangun Baitullah yang merupakan tempat terbaik di muka bumi. Meskipun mereka adalah manusia pilihan Allah Subhanahu wa Ta'ala, mereka tetap memohon agar amalan tersebut diterima.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

وَإِذْ يَرْفَعُ إِبْرَاهِيمُ الْقَوَاعِدَ مِنَ الْبَيْتِ وَإِسْمَاعِيلُ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا ۖ إِنَّكَ أَنتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

"Dan (ingatlah) ketika Ibrahim meninggikan pondasi baitullah bersama Ismail (seraya berdoa), 'Ya Tuhan kami, terimalah amal dari kami. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui'." (QS. Al-Baqarah[2]: 127)

Ayat tersebut memberikan pelajaran berharga bahwa meskipun Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail 'Alaihimassalam membangun Ka'bah yang merupakan tempat paling mulia, mereka tetap bersimpuh berdoa. Sebagai utusan Allah yang paling ikhlas dan pemimpin orang-orang bertauhid (Imam al-Hunafa), mereka tidak pernah melakukan kesyirikan sedikit pun.

Allah Subhanahu wa Ta'ala menegaskan kedudukan beliau:

إِنَّ إِبْرَاهِيمَ كَانَ أُمَّةً قَانِتًا لِّلَّهِ حَنِيفًا وَلَمْ يَكُ مِنَ الْمُشْرِكِينَ

"Sungguh, Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan, patuh kepada Allah dan hanif. Dan dia tidak pernah termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Allah)." (QS. An-Nahl[16]: 120)

Kisah ini menjadi suri teladan agar setiap amal saleh selalu diiringi dengan doa permohonan agar amalan tersebut diterima. Tidak ada seorang pun yang mengetahui status diterimanya suatu amalan karena tidak ada pemberitahuan langsung dari Allah Subhanahu wa Ta'ala. Namun, sebuah amalan diharapkan diterima jika memenuhi dua syarat utama, yaitu ikhlas karena Allah Subhanahu wa Ta'ala dan mengikuti tuntunan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam.

Sangat banyak pelajaran yang dapat dipetik dari perjuangan Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam dan para sahabat dalam menegakkan agama Allah. Beratnya ujian yang mereka hadapi jauh melampaui ujian yang dirasakan umat Islam saat ini. Ketika seorang sahabat bertanya mengenai manusia yang paling berat ujiannya, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam menjawab:

أَشَدُّ النَّاسِ بَلَاءً الْأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الْأَمْثَلُ فَالْأَمْثَلُ

"Manusia yang paling berat ujiannya adalah para nabi, kemudian yang semisal dengan mereka, dan yang semisal dengan mereka." (HR. Tirmidzi)

Allah Subhanahu wa Ta'ala menguji seseorang sesuai dengan kadar keimanannya. Dalam mengarungi kehidupan di dunia ini, manusia tidak akan pernah lepas dari tiga perkara dan harus menghadapinya dengan tiga sikap yang tepat.

Tiga Pilar Kebahagiaan: Syukur, Sabar, dan Istighfar

Perkara pertama adalah nikmat, baik sedikit maupun banyak. Sikap yang harus diambil adalah bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala atas segala pemberian-Nya. Imam Ibnu Qayyim rahimahullahu Ta'ala menjelaskan bahwa syukur harus terus bertambah karena nikmat-Nya pun tidak pernah berhenti mengalir.

Allah Subhanahu wa Ta'ala menjanjikan tambahan nikmat bagi mereka yang bersyukur:

لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

"Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat." (QS. Ibrahim[14]: 7)

Kondisi kedua yang tidak mungkin dihindari dalam kehidupan adalah mendapatkan ujian, musibah, atau malapetaka. Hal ini merupakan bagian tak terpisahkan dari perjalanan seorang hamba di dunia.

Ujian merupakan keniscayaan dalam kehidupan manusia. Sebagaimana disabdakan oleh Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam, setiap individu akan diuji melalui berbagai sisi. Seorang suami mungkin diuji melalui anak dan istrinya, sementara seorang istri diuji melalui suami dan anak-anaknya. Bahkan dalam sebuah perjalanan bersama, ujian dapat muncul melalui interaksi antar teman yang mungkin menimbulkan rasa tidak nyaman atau menyakitkan.

Sikap yang benar dalam menghadapi segala bentuk ujian adalah dengan bersabar. Tanpa kesabaran, jiwa tidak akan pernah merasakan ketenangan, justru akan selalu diliputi kegelisahan dan pikiran yang terbebani oleh musibah yang menimpa. Sebaliknya, kesabaran akan melahirkan kedamaian, sebagaimana rasa syukur saat mendapatkan nikmat akan menambah ketenangan hati. Setiap orang harus menyadari bahwa tidak ada yang dapat lepas dari ujian, malapetaka, atau hal-hal yang tidak disenangi di dunia ini. 

Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda:

مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ وَلَا هَمٍّ وَلَا حُزْنٍ وَلَا أَذًى وَلَا غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ

"Tidaklah seorang muslim ditimpa keletihan, penyakit, kesusahan, kesedihan, gangguan, hingga kegundahan, bahkan duri yang menusuknya, melainkan Allah akan menghapuskan kesalahan-kesalahannya karenanya." (HR. Bukhari)

Banyak ulama menjelaskan bahwa salah satu faktor penyebab datangnya hal-hal yang tidak disenangi atau ujian yang berat adalah perbuatan dosa. Terkadang manusia lalai untuk introspeksi diri dan lebih cenderung melihat kesalahan orang lain daripada kesalahan pribadi. Padahal, musibah yang datang bisa jadi merupakan peringatan atas dosa-dosa yang telah dilakukan. 

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

وَمَا أَصَابَكُم مِّن مُّصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَن كَثِيرٍ

"Dan musibah apapun yang menimpa kamu adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan banyak (dari kesalahan-kesalahanmu)." (QS. Asy-Syura[42]: 30)

Oleh karena itu, sangat penting untuk selalu mengoreksi diri dan memperbanyak istighfar serta memohon ampun kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam setiap perjalanan hidup.

Keadaan ketiga yang pasti dialami oleh setiap manusia, selain nikmat dan ujian, adalah perbuatan dosa. Tidak ada manusia di permukaan bumi ini yang luput dari kesalahan kecuali para nabi dan rasul yang bersifat maksum (terjaga dari dosa). Sikap berlebihan (ghuluw) terhadap seorang ustadz, kiai, atau tokoh idola dengan menganggap mereka suci dari dosa adalah sebuah kekeliruan. Ketika seseorang menganggap idolanya suci lalu mendapati mereka melakukan kesalahan, hal itu dapat menyebabkan kekecewaan yang mendalam hingga menjauh dari kebenaran.

Kesadaran bahwa setiap orang bisa melakukan kesalahan harus membawa setiap individu pada sikap rendah hati untuk saling memaafkan dan berintrospeksi. Tindakan terbaik saat melakukan kesalahan adalah segera beristighfar memohon ampunan dan bertaubat kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam:

كُلُّ بَنِي آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ

"Setiap anak Adam pasti sering berbuat salah, dan sebaik-baik orang yang berbuat salah adalah mereka yang bertaubat." (HR. Tirmidzi)

Ketiga perkara ini; bersyukur saat mendapat nikmat, bersabar saat diuji, dan beristigfar saat berbuat dosa merupakan inti dari kebahagiaan seorang hamba. Sebagaimana dijelaskan oleh Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahab dalam kitabnya Al-Qawa'idul Arba', ketiga hal tersebut adalah tanda kebahagiaan (unwanus sa'adah).

Tiga Kunci Kebahagiaan dan Urgensi Persatuan

Inti dari kebahagiaan terletak pada tiga perkara. Jika ketiga hal ini senantiasa hadir dalam kehidupan hingga ajal menjemput, niscaya kebahagiaan akan diraih. Pertama, bersyukur apabila mendapatkan nikmat. Kedua, bersabar apabila mendapatkan ujian, malapetaka, atau hal yang menyakitkan. Ketiga, beristighfar apabila melakukan perbuatan dosa.

Ketidakhadiran salah satu dari ketiga pilar ini dalam diri akan mendatangkan kegelisahan. Ketiga perkara ini tidak akan pernah lepas dari kehidupan manusia, apapun status sosialnya. Oleh karena itu, menghadapinya dengan sikap yang tepat adalah jalan menuju kebahagiaan yang hakiki dari Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Nasihat terbaik bersumber dari Al-Qur'an dan hadits Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam. Salah satunya adalah firman Allah Subhanahu wa Ta'ala yang sering dibacakan oleh Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam dalam khutbatul hajah:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

"Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim." (QS. Ali 'Imran[3]: 102)

Ayat selanjutnya menekankan pentingnya persatuan:

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا

"Dan berpegang teguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai." (QS. Ali 'Imran[3]: 103)

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di Rahimahullah dalam tafsirnya, Taisir Al-Karimir Rahman, mengaitkan kedua ayat ini. Beliau menjelaskan bahwa ketakwaan yang sebenar-benarnya akan mengantarkan seseorang ke surga, dan salah satu bentuk ketakwaan tersebut adalah berpegang teguh kepada tali Allah.

Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya, Al-Qur'anul 'Azhim, menukil riwayat bahwa yang dimaksud dengan tali Allah adalah Kitabullah (Al-Qur'an). Al-Qur'an adalah tali Allah yang terbentang dari langit ke bumi, yang diturunkan kepada utusan-Nya untuk disampaikan kepada umat manusia.

Umat Islam diperintahkan untuk berpegang teguh pada tali tersebut dan dilarang berpecah belah. Perselisihan hanya akan mendatangkan kemurkaan Allah Subhanahu wa Ta'ala, melemahkan kekuatan umat, dan memudahkan musuh untuk menguasai. Persatuan yang hakiki harus dibangun di atas landasan tauhid dan aqidah yang benar, bukan di atas kesyirikan. Begitu pula persatuan hanya dapat terwujud di atas sunnah.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah menyatakan bahwa sunnah bersifat mengumpulkan (tajma'), sedangkan bid'ah bersifat memecah belah (tafarruq). Amalan-amalan yang dikerjakan tanpa contoh dari Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam merupakan penyebab utama perpecahan umat Islam di seluruh dunia. Semakin banyak perkara bid'ah dilakukan, semakin besar pula jurang perpecahan yang tercipta.

Oleh karena itu, ayat ini merupakan ajakan untuk bersatu dengan cara memurnikan tauhid, menjauhi segala bentuk kesyirikan, serta berpegang teguh pada sunnah Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam sembari menjauhi perkara-perkara bid'ah.

Persatuan di Atas Tauhid dan Kemuliaan Akhlak

Upaya menjaga persatuan di atas tauhid dan sunnah merupakan jalan agar Allah Subhanahu wa Ta'ala memberikan keberkahan. Nasihat ini disampaikan semata-mata karena Allah 'Azza wa Jalla, tanpa maksud menyinggung pihak mana pun. Umat Islam hendaknya bersatu dalam tauhid dan sunnah serta menjauhi perkara syirik dan bid'ah, sebab di sanalah letak kemuliaan dan kebaikan yang sangat banyak. Sebaliknya, perpecahan hanya akan mendatangkan kelemahan.

Penting bagi setiap individu untuk senantiasa melakukan introspeksi diri. Dalam interaksi selama perjalanan atau kehidupan sehari-hari, mungkin terdapat sikap yang kurang baik atau menyinggung perasaan orang lain, sehingga permohonan maaf dan sikap saling mengingatkan karena Allah Subhanahu wa Ta'ala menjadi sangat penting.

Hubungan baik kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala harus berjalan selaras dengan hubungan baik sesama manusia. Keduanya merupakan faktor utama yang mengantarkan seseorang ke surga. 

Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda:

تَقْوَى اللَّهِ وَحُسْنُ الْخُلُقِ

"Bertakwa kepada Allah dan berakhlak dengan akhlak yang baik." (HR. Tirmidzi)

Ketakwaan merupakan perwujudan hubungan vertikal kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, sedangkan akhlak mulia adalah perwujudan hubungan horizontal kepada sesama manusia. Kedua hal ini tidak dapat dipisahkan. Ibadah yang banyak tidak akan sempurna jika hubungan dengan sesama manusia buruk. Begitu pula sebaliknya, hubungan sosial yang baik tidak akan membawa keselamatan tanpa diiringi ibadah kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala seperti shalat dan puasa.

Ilmu yang telah didapatkan dari Al-Qur'an, hadits, dan nasihat para ulama tidak boleh sekadar tersimpan dalam kitab atau ingatan, melainkan harus diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari agar menjadi ilmu yang bermanfaat. Proses belajar dan beramal ini tidak mengenal kata berhenti hingga ajal menjemput. Setiap mukmin hendaknya terus menuntut ilmu dan mengamalkannya agar senantiasa mendapatkan taufik serta hidayah dari Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Rangkaian nasihat ini mencakup pondasi penting dalam agama: bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, bertauhid, mengikuti sunnah Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam, bersyukur atas nikmat, bersabar atas musibah, dan bertaubat dari segala dosa. Selain itu, berpegang teguh pada Kitabullah dan memperbagus muamalah sesama manusia adalah hal-hal esensial yang harus diwujudkan oleh setiap muslim dalam kehidupannya.

Wallahu Ta'ala A'lam bish-Shawab.

Chat Dengan Kami
built with : https://erahajj.co.id