Mendahulukan Akhirat di Atas Dunia

Kategori : Kajian, Ditulis pada : 17 Januari 2026, 14:27:54

Perjalanan ibadah umroh dan haji adalah mendidik setiap jiwa untuk berpacu mengejar urusan akhirat, sementara urusan dunia dilakukan sekadarnya. Meskipun aktivitas belanja tetap ada, hal tersebut bukan menjadi tujuan utama. Fokus utama tetap pada ibadah yang memiliki target khusus, seperti shalat berjamaah, tawaf, hingga shalat tahajud di Masjidil Haram. Secara aplikasi, setiap individu telah belajar untuk mendahulukan akhirat daripada dunia.

Selama berada di tanah suci, penilaian manusia tidak lagi menjadi beban. Seseorang tidak merasa risih mengenakan pakaian yang kusut atau tidak disetrika, padahal mungkin di Indonesia hal tersebut akan menjadi beban pikiran. Bahkan, banyak jamaah yang tetap merasa tenang dan santai meskipun harus berjalan tanpa alas kaki karena sandalnya tertinggal. Ketenangan tersebut muncul karena hati lebih bangga telah menyelesaikan tawaf daripada memusingkan urusan sandal yang hilang. Urusan dunia dianggap bukan masalah besar selama hubungan dengan Allah Subhanahu wa Ta'ala terjaga.

Pelajaran berharga ini harus dibawa pulang ke tanah air. Prinsipnya bukan berarti harus berpakaian kusut saat di Indonesia, melainkan jangan terlalu peduli terhadap omongan manusia jika hal itu berkaitan dengan ketaatan. Penilaian Allah Subhanahu wa Ta'ala adalah yang paling utama. Jika ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam membuat orang lain tidak suka, maka biarlah demikian. Kesenangan manusia tidak akan menambah langkah menuju surga ataupun menghindarkan diri dari neraka. Namun, ridha dan cinta Allah 'Azza wa Jalla adalah jaminan keselamatan.

Saking khusyuknya beribadah, terkadang seseorang tidak lagi mengingat tanggal atau hari karena fokus sepenuhnya pada akhirat. Semangat ini hendaknya diterapkan dalam pekerjaan dan kehidupan di kampung halaman. Fokus utamanya adalah menaati Allah Subhanahu wa Ta'ala, mengikuti sunnah Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam, serta memurnikan tauhid tanpa mempedulikan celaan orang lain.

Keimanan yang telah diperbaiki di Madinah dan Makkah ini jangan sampai terurai kembali setibanya di Indonesia. Allah Subhanahu wa Ta'ala memberikan perumpamaan dalam Al-Qur'an:

وَلَا تَكُونُوا كَالَّتِي نَقَضَتْ غَزْلَهَا مِن بَعْدِ قُوَّةٍ أَنكَاثًا

"Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai-berai kembali." (QS. An-Nahl[16]: 92)

Ayat tersebut merupakan peringatan agar amal ibadah dan keteguhan iman yang telah dibangun dengan susah payah tidak dirusak kembali oleh kelalaian setelah perjalanan ini berakhir. Semoga keimanan yang telah dipupuk di dua kota suci ini tetap terjaga dengan kuat sampai akhir hayat.

Menjaga Konsistensi Iman dan Bakti

Allah Subhanahu wa Ta'ala melarang hamba-Nya yang telah memasuki pintu ketaatan dan keimanan untuk kemudian meninggalkan ketakwaan tersebut. Larangan ini menjadi peringatan agar setiap individu menjaga semangat ibadahnya. Jika seseorang berhasil membawa pulang setidaknya tiga puluh hingga empat puluh persen saja dari semangat mendekatkan diri kepada Allah, semangat mengikuti sunnah Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam, serta semangat mendahulukan akhirat, niscaya akan terjadi kebaikan yang luar biasa dalam kehidupannya dengan izin Allah 'Azza wa Jalla. 

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

وَلَا تَكُونُوا كَالَّتِي نَقَضَتْ غَزْلَهَا مِن بَعْدِ قُوَّةٍ أَنكَاثًا

"Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai-berai kembali." (QS. An-Nahl[16]: 92)

Keberadaan di Kota Makkah dan Madinah merupakan praktek nyata dalam menjalankan agama Allah Subhanahu wa Ta'ala. Kenikmatan hidup yang dirasakan di tanah suci ini bersumber dari ketaatan, karena Allah meletakkan kebahagiaan pada rasa syukur atas nikmat, kesabaran atas musibah, dan taubat atas kesalahan. Kebahagiaan hakiki tidak terletak pada fasilitas duniawi. Banyak orang berkelana keliling dunia demi mencari kenyamanan, namun tidak ada nikmat yang setara dengan kedamaian rohani yang didapatkan melalui ibadah. Ketenangan hati akan hadir sesuai dengan kadar ketaatan yang dilakukan.

Sebagai kesimpulan, terdapat tiga nasihat utama yang harus dipegang teguh. Pertama, lanjutkan pemurnian tauhid dalam hidup sampai akhir hayat. Kedua, lanjutkan ittiba' atau mengikuti sunah Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam secara konsisten. Ketiga, prioritaskan kepedulian terhadap akhirat di atas urusan dunia. Harapannya, hal ini dapat menjadi wasilah untuk berkumpul kembali di surga Firdaus.

Mengenai dilema antara melaksanakan shalat di Masjidil Haram atau menemani orang tua yang kesehatannya menurun di kamar, terdapat solusi untuk mendapatkan keduanya. Seorang anak dapat meminta izin kepada ibunya untuk melaksanakan shalat di masjid dan segera kembali setelahnya. Penting untuk memberikan pengertian kepada orang tua bahwa lingkungan di tanah suci aman sehingga mereka tidak perlu merasa khawatir saat ditinggal sendirian di dalam kamar.

Bakti kepada orang tua dan mengejar keutamaan shalat di Masjidil Haram dapat berjalan beriringan dengan komunikasi yang baik. Hal ini sekaligus menepis kekhawatiran yang tidak berdasar mengenai keamanan di lingkungan tersebut. Melayani orang tua adalah bagian dari ketaatan, dan meluangkan waktu untuk beribadah di tempat mulia adalah keutamaan. 

Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda:

رِغِمَ أَنْفُ ثُمَّ رِغِمَ أَنْفُ ثُمَّ رِغِمَ أَنْفُ قِيلَ مَنْ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ مَنْ أَدْرَكَ أَبَوَيْهِ عِنْدَ الْكِبَرِ أَحَدَهُمَا أَوْ كِلَيْهِمَا فَلَمْ يَدْخُلِ الْجَنَّةَ

"Sungguh celaka, sungguh celaka, sungguh celaka. Ada yang bertanya, 'Siapa wahai Rasulullah?' Beliau menjawab, 'Orang yang mendapati kedua orang tuanya dalam usia lanjut, salah satu atau keduanya, namun tidak membuatnya masuk surga'." (HR. Muslim)

Dengan menjaga keseimbangan antara ketaatan vertikal kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dan bakti horizontal kepada orang tua, seorang hamba akan meraih kesempurnaan dalam menjalankan syariat-Nya.

Chat Dengan Kami
built with : https://erahajj.co.id