Madinah: Kota Thaybah Tempat Berlabuhnya Keimanan
Dalam rangkaian ibadah Haji dan Umrah, Madinah sering kali menjadi tempat yang memberikan ketenangan batin terdalam bagi para jamaah. Dikenal dengan sebutan Thaybah dan Thabah, kota ini bukan sekadar destinasi ziarah, melainkan tempat yang disucikan dan dicintai oleh Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam karena kesantunan penduduknya dan kedamaian atmosfernya. Meskipun pahala shalat di Mekah memiliki lipat ganda yang lebih besar, Madinah memiliki daya tarik spiritual sebagai "sarang" bagi keimanan di akhir zaman. Memahami karakteristik Madinah, mulai dari kelembutan penduduknya hingga tantangan iklimnya, akan membantu jamaah untuk lebih bersabar dan khusyuk dalam menikmati setiap detik kebersamaan mereka bersama sang Nabi di kota suci ini.
Madinah sebagai Thaybah dan Thabah
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam memberikan nama istimewa bagi Madinah, yaitu Thaybah dan Thabah. Nama ini merujuk pada kata thayyib yang berarti bagus atau baik. Imam Muslim meriwayatkan dalam sebuah hadits:
هَذِهِ طَيْبَةُ هَذِهِ طَيْبَةُ هَذِهِ طَيْبَةُ يَعْنِي الْمَدِينَةَ
"Ini adalah Thaybah, ini adalah Thaybah, ini adalah Thaybah, yakni Madinah." (HR. Muslim)
Dalam riwayat Bukhari, digunakan pula lafaz Thabah. Nama ini diberikan karena kesucian tanahnya serta kenyamanan hidup di dalamnya. Jika dibandingkan dengan Mekah, suasana di Madinah terasa lebih tenang dan rapi. Penduduk Madinah dikenal memiliki karakter yang sangat santun, lembut, dan menghormati tamu, berbeda dengan karakter penduduk Mekah yang cenderung lebih keras.
Meskipun Madinah menawarkan kenyamanan dan ketenangan, pahala ibadah di Mekah tetap jauh lebih besar. Oleh karena itu, bagi jamaah yang memiliki tujuan utama mencari pelipatgandaan pahala, durasi tinggal di Mekah seharusnya lebih lama dibandingkan di Madinah. Namun, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam menyebut Madinah sebagai Thaybah karena memang menetap di sana memberikan kenyamanan batin yang luar biasa.
Iman yang Kembali ke Madinah
Keistimewaan lain dari kota ini adalah kedudukannya sebagai tempat kembalinya iman. Di akhir zaman, keimanan akan berkumpul di Madinah. Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda:
إِنَّ الْإِيمَانَ لَيَأْرِزُ إِلَى الْمَدِينَةِ كَمَا تَأْرِزُ الْحَيَّةُ إِلَى جُحْرِهَا
"Sesungguhnya iman akan kembali ke Madinah sebagaimana ular kembali ke sarangnya." (HR. Bukhari dan Muslim)
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam juga menganjurkan penduduk Madinah untuk bersabar menghadapi segala kesulitan dan ujian yang ada di sana. Dari sisi iklim, Madinah memiliki tantangan tersendiri. Meskipun udaranya terasa nyaman, cuaca di Madinah sangat kering, terutama saat musim dingin. Kekeringan udara ini terkadang menyebabkan pori-pori kulit pecah. Bahkan, penduduk dari wilayah yang sangat dingin sekalipun, seperti Rusia, terkadang merasa kesulitan menghadapi musim dingin di Madinah karena sifat udaranya yang sangat kering tersebut. Kesabaran dalam menghadapi ujian fisik dan lingkungan di Madinah merupakan bagian dari perjuangan seorang mukmin dalam mencintai kota Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam.
Kondisi iklim di Madinah memiliki tantangan tersendiri bagi penduduk maupun jamaah. Berbeda dengan daerah yang memiliki udara dingin namun lembap, Madinah memiliki udara dingin yang sangat kering. Kekeringan udara tersebut terkadang mengakibatkan pecahnya pori-pori kulit hingga mengeluarkan darah, bahkan pada bagian hidung maupun bibir. Dalam kondisi demikian, seseorang perlu menggunakan pelindung bibir atau pelembab kulit untuk mencegah luka yang terasa menyakitkan. Menghadapi ujian fisik ini, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam memerintahkan umatnya untuk bersabar.
Imam Muslim meriwayatkan dalam kitab shahihnya dari Abu Sa'id Maula Al-Mahri, bahwa ia mendatangi Abu Sa'id Al-Khudri Radhiyallahu 'Anhu pada masa peristiwa Al-Harrah. Peristiwa tersebut merupakan masa penuh fitnah dan kesulitan, di mana banyak sahabat terbunuh di Madinah. Abu Sa'id Maula Al-Mahri bermaksud meninggalkan kota Madinah karena tidak tahan menghadapi mahalnya harga kebutuhan pokok, banyaknya tanggungan anak, serta berbagai kesulitan hidup lainnya. Namun, Abu Sa'id Al-Khudri Radhiyallahu 'Anhu melarangnya dan menyampaikan sabda Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam:
لَا يَصْبِرُ أَحَدٌ عَلَى لَأْوَائِهَا فَيَمُوتَ إِلَّا كُنْتُ لَهُ شَفِيعًا أَوْ شَهِيدًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِذَا كَانَ مُسْلِمًا
"Tidaklah seseorang bersabar menghadapi kesusahan dan kesulitan di Madinah lalu ia mati, kecuali aku akan menjadi pemberi syafaat atau saksi baginya pada hari kiamat." (HR. Muslim)
Lihat juga: Keutamaan Meninggal Dunia di Madinah
Menghadapi tantangan cuaca yang kering hingga ujian kesabaran lainnya di Madinah adalah bagian dari perjuangan seorang mukmin untuk meraih syafaat Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam. Madinah mengajarkan kita bahwa kenyamanan sejati lahir dari kesabaran dan cinta kepada sang kekasih Allah. Wipa Tour siap menemani perjalanan spiritual Anda menuju Madinah yang menenangkan dan Mekah yang mulia dengan pelayanan yang penuh perhatian dan bimbingan yang tulus. Jangan biarkan impian Anda untuk bersujud di Madinah tertunda hanya karena kekhawatiran teknis; serahkan urusan perjalanan Anda kepada kami. Mari jemput syafaat dan ketenangan jiwa melalui ibadah Haji dan Umrah bersama Wipa Tour, travel amanah yang memastikan perjalanan Anda menjadi kenangan terindah dalam hidup.