Hukum Menggunakan Pakaian Ihram Untuk Masuk Mataf

Kategori : Kajian, Ditulis pada : 18 Januari 2026, 10:32:55

Melaksanakan ibadah di Masjidil Haram, khususnya berada sedekat mungkin dengan Ka’bah di area Mataf, adalah dambaan setiap mukmin. Namun, seiring dengan peraturan ketat dari pemerintah Arab Saudi yang memprioritaskan area pelataran bagi jamaah berbaju ihram, sering muncul dilema bagi mereka yang ingin melaksanakan tawaf sunnah. Muncul sebuah praktik di mana jamaah mengenakan kain ihram hanya sebagai "akses" masuk tanpa benar-benar berniat umroh. Lantas, bagaimana tinjauan syariat dan adab mengenai hal ini? Penting bagi kita untuk memahami batasan antara kerinduan beribadah dengan kejujuran dalam bersikap di rumah Allah yang suci.

Mengenai penggunaan pakaian ihram bagi laki-laki agar dapat masuk ke pelataran Ka'bah (Mataf), hal ini berkaitan dengan peraturan pemerintah setempat. Jika seseorang berpakaian ihram hanya agar terlihat seperti orang yang sedang berumrah padahal ia tidak dalam keadaan ihram, tindakan tersebut mengandung unsur kedustaan. Ketentuan di pelataran tawaf saat ini memang diperuntukkan bagi mereka yang sedang melaksanakan ibadah umrah.

Namun, terdapat pengecualian jika ada kebutuhan yang mendesak (hajah), seperti seorang ayah yang harus menemani putrinya menyelesaikan rangkaian umrah pascahaid. Dalam kondisi mendesak untuk mendampingi keluarga yang sedang ihram, Allah Subhanahu wa Ta'ala Maha Mengetahui keadaan hamba-Nya. Sebaliknya, jika motivasinya hanya sekadar keinginan untuk berada lebih dekat dengan Ka'bah tanpa ada kebutuhan mendesak, hal tersebut bukan merupakan alasan yang dibenarkan untuk melanggar aturan yang ada. Menjaga kejujuran dalam beribadah merupakan bagian dari ketakwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Penggunaan pakaian ihram tanpa maksud ibadah umrah untuk masuk ke pelataran Ka'bah (Mataf) sebaiknya tidak dilakukan kembali. Tawaf sunah dapat dilaksanakan dengan pakaian biasa di lantai dua atau lantai tiga, kecuali terdapat kebutuhan mendesak (hajah). Contoh kebutuhan tersebut adalah bagi jamaah lansia yang secara fisik tidak lagi sanggup menempuh jarak tawaf di lantai atas yang jauh lebih panjang. Bagi mereka yang masih memiliki kekuatan fisik, hendaknya melaksanakan ibadah sesuai kemudahan yang Allah Subhanahu wa Ta'ala berikan tanpa ada unsur kedustaan dalam berpakaian.

Kejujuran niat adalah ruh dari setiap ibadah, dan menghormati aturan di Tanah Suci merupakan bagian dari memuliakan syiar-syiar Allah. Dengan memahami kapan sebuah tindakan dikategorikan sebagai kebutuhan mendesak (hajah) dan kapan itu menjadi sebuah kedustaan, kita dapat beribadah dengan hati yang lebih tenang. Di Wipa Tour, kami berkomitmen memberikan bimbingan yang solutif bagi jamaah, termasuk bagi lansia yang memerlukan penanganan khusus, agar tetap bisa beribadah dengan optimal tanpa melanggar prinsip kejujuran. Mari raih keberkahan umroh yang murni dan tertib bersama Wipa Tour. Hubungi kami sekarang untuk mendapatkan bimbingan ibadah yang sesuai sunnah dan pelayanan yang penuh empati.

Chat Dengan Kami
built with : https://erahajj.co.id