Ketakwaan Hati dan Istiqamah Selepas Ibadah Umrah

Kategori : Kajian, Ditulis pada : 17 Januari 2026, 13:38:54

Keberhasilan dalam beragama tidak ditentukan oleh siapa yang berbicara di depan. Agama adalah urusan setiap individu dengan Tuhannya. Meskipun seorang ustadz menyampaikan ilmu, tidak tertutup kemungkinan bagi orang yang mendengarkan untuk mengamalkannya jauh lebih baik. Hal ini dikarenakan ketakwaan letaknya berada di dalam dada, dan hanya Allah Subhanahu wa Ta'ala yang mengetahui isinya.

Seorang pengajar mungkin terlihat lebih unggul karena faktor pendidikan dan hafalan ayat-ayat Al-Qur'an maupun hadits yang lebih banyak. Namun, secara pengamalan, setiap orang berkesempatan melampaui siapapun. Jangan pernah berasumsi bahwa ketika seorang ustadz berbicara, hanya dia yang mampu mengamalkannya. Dalam Islam, bisa jadi seseorang tidak dikenal luas, ucapannya tidak didengar, bahkan lamarannya ditolak, namun dialah yang terbaik di sisi Allah Subhanahu wa Ta'ala. 

Oleh karena itu, setiap hamba harus selalu berupaya menjadi yang terbaik dalam kebaikan. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ

"Maka berlomba-lombalah kamu dalam kebaikan." (QS. Al-Baqarah[2]: 148)

Kondisi fisik yang lelah setelah menunaikan berbagai rangkaian ibadah di tanah suci, seperti tawaf dan berjalan menuju Masjidil Haram, merupakan bukti semangat yang luar biasa. Selama berada di Makkah, panca indra terjaga dengan baik. Telinga terpelihara dari suara-suara yang tidak bermanfaat, mata terjaga karena pemandangan orang-orang yang menutup aurat, dan lisan senantiasa basah dengan dzikir, tasbih, serta bacaan Al-Qur'an. Kaki pun ringan dilangkahkan menuju rumah Allah yang paling mulia.

Hal yang sering terjadi adalah melemahnya semangat ibadah tersebut saat telah kembali ke tanah air. Semangat luar biasa yang dirasakan di tanah suci, seperti bangun pada pukul 03.00 atau 04.00 pagi untuk mengejar shalat berjamaah, hendaknya dibawa pulang ke rumah dan kampung halaman. Jika semangat ini tetap terjaga, kenikmatan hidup yang dirasakan selama di Makkah akan terus berlanjut di tanah air.

Jangan sampai kondisi keimanan seseorang menjadi seperti yang diperingatkan oleh sahabat Abdullah bin Mas'ud, yang menekankan pentingnya menjaga konsistensi amal. Kekuatan ibadah saat di tanah suci harus menjadi barometer untuk meningkatkan kualitas ketakwaan di tempat asal, bukan sekadar kenangan sesaat yang luntur setelah perjalanan berakhir.

Prinsip Keteguhan Iman dan Keutamaan Beramal

Sahabat Abdullah bin Mas'ud Radhiallahu 'Anhu memberikan peringatan agar seorang mukmin tidak menjadi pribadi yang hanya ikut-ikutan (imma'ah). Sikap tersebut ditandai dengan kecenderungan seseorang untuk menjadi baik hanya karena berada di lingkungan yang baik, namun ikut menjadi buruk saat berada di lingkungan yang buruk. Beliau berkata:

لَا تَكُونُوا إِمَّعَةً تَقُولُونَ إِنْ أَحْسَنَ النَّاسُ أَحْسَنَّا وَإِنْ ظَلَمُوا ظَلَمْنَا وَلَكِنْ وَطِّنُوا أَنْفُسَكُمْ إِنْ أَحْسَنَ النَّاسُ أَنْ تُحْسِنُوا وَإِنْ أَسَاءُوا فَلَا تَظْلِمُوا

"Janganlah kalian menjadi 'imma'ah', yang berkata: 'Jika orang-orang baik, kami pun baik, dan jika mereka zalim, kami pun zalim.' Akan tetapi, teguhkanlah diri kalian; jika orang-orang baik, hendaklah kalian baik, dan jika mereka berbuat buruk, janganlah kalian ikut berlaku zalim." (HR. Tirmidzi)

Mengikuti kebaikan saat orang lain melakukannya adalah hal positif. Namun, saat kembali ke lingkungan yang kurang baik, seorang muslim harus mampu menjaga prinsip dan tidak terpengaruh oleh keburukan tersebut. Keteguhan hati diperlukan agar seseorang tetap berbuat baik meski orang-orang di sekelilingnya berbuat buruk.

Semangat beribadah yang luar biasa selama di tanah suci dipicu oleh beberapa faktor. Lingkungan di Makkah yang dipenuhi orang-orang yang berpacu dalam ketaatan sangat mempengaruhi motivasi diri. Selain itu, kesadaran bahwa waktu yang dimiliki di Kota Makkah sangat terbatas mendorong setiap hamba untuk memanfaatkan waktu semaksimal mungkin di Masjidil Haram.

Keutamaan shalat di Masjidil Haram sangat istimewa. Satu kali shalat di sana lebih baik daripada seratus ribu shalat di masjid lainnya. Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda:

صَلَاةٌ فِي مَسْجِدِي هَذَا أَفْضَلُ مِنْ أَلْفِ صَلَاةٍ فِيمَا سِوَاهُ إِلَّا الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ وَصَلَاةٌ فِي الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ أَفْضَلُ مِنْ مِائَةِ أَلْفِ صَلَاةٍ فِيمَا سِوَاهُ

"Shalat di masjidku ini (Masjid Nabawi) lebih utama daripada seribu shalat di masjid lainnya, kecuali Masjidil Haram. Dan shalat di Masjidil Haram lebih utama daripada seratus ribu shalat di masjid lainnya." (HR. Ahmad)

Secara perhitungan tahun Hijriah yang terdiri atas 360 hari, untuk mencapai nilai satu kali shalat yang lebih baik daripada seratus ribu shalat tersebut dibutuhkan waktu lebih dari 277 tahun. Nilai ibadah yang sangat besar inilah yang memicu semangat untuk terus beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala selama masa keberadaan yang singkat di sini.

Rasa iri terhadap mereka yang menetap di Kota Makkah diperbolehkan asalkan dalam konteks menginginkan pahala yang sama tanpa mengharapkan nikmat tersebut hilang dari orang lain. Namun, perlu disadari bahwa setiap tempat dan kondisi memiliki kelebihan serta kekurangannya masing-masing.

Hal terpenting adalah mempertahankan nilai-nilai ketaatan yang telah dibentuk selama di tanah suci. Selama di sini, setiap individu benar-benar memurnikan tauhid dan beribadah hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Prinsip tauhid dan semangat ibadah ini harus terus dipertahankan di tanah air hingga akhir hayat demi meraih taufik dari Allah 'Azza wa Jalla.

Chat Dengan Kami
built with : https://erahajj.co.id