Hakikat Ittiba' dan Konsistensi dalam Beribadah
Tanah suci Makkah dan Madinah adalah tempat setiap hamba dididik untuk mempraktikkan ittiba' atau mengikuti tuntunan Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam secara mutlak. Fenomena ini terlihat jelas pada ibadah umrah. Hampir tidak ditemukan jamaah yang menolak perintah untuk menanggalkan pakaian biasa dan mengenakan kain ihram, meskipun ia memiliki pola pikir yang sebelumnya jauh dari sunnah. Setiap orang secara otomatis mengikuti tata cara yang dicontohkan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam tanpa perlawanan.
Allah Subhanahu wa Ta'ala memberikan kekuatan dan ketaatan yang luar biasa kepada manusia saat berada di dua kota suci ini. Tidak ada jamaah yang memprotes ukuran kain ihram yang pendek atau posisinya yang berada di atas mata kaki, padahal mungkin di tanah air mereka terbiasa berpakaian berbeda. Begitu pula para wanita, tidak ada yang menolak saat diminta mengenakan jilbab yang sempurna. Ketaatan ini dijalani dengan penuh kenyamanan dan ketentraman hati.
Pernyataan ini menjadi bahan evaluasi mengenai perubahan sikap yang sering terjadi saat kembali ke tanah air. Seseorang yang sebelumnya merasa nyaman menjalankan sunnah di Makkah, terkadang mulai merasa risih atau mengeluh saat diminta mengenakan jilbab besar atau memotong celana di atas mata kaki sesuai sunnah Nabi. Padahal, Allah Subhanahu wa Ta'ala telah memperlihatkan bahwa menjalankan syariat-Nya mendatangkan ketenangan.
Dalam pelaksanaan tawaf, semua jamaah mengikuti aturan tujuh putaran tanpa ada yang mempertanyakan alasannya atau mencoba mengubah jumlahnya. Secara lisan, kalimat tauhid terus dikumandangkan melalui talbiyah:
لَبَّيْكَ لَا شَرِيكَ لَكَ لَبَّيْكَ
"Aku memenuhi panggilan-Mu, tidak ada sekutu bagi-Mu, aku memenuhi panggilan-Mu."
Talbiyah adalah penegasan bahwa ibadah, umrah, dan ihram dilakukan hanya untuk Allah Subhanahu wa Ta'ala dengan mengharapkan keridhaan, ampunan, serta surga-Nya. Segala bentuk pujian, jabatan, dan urusan duniawi ditanggalkan demi kemuliaan di sisi Allah 'Azza wa Jalla. Penegasan tauhid ini juga diulang-ulang saat berada di bukit Shafa dan Marwah dengan mengucap:
لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ
"Tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya." (HR. Muslim)
Seluruh rangkaian sai, termasuk berlari kecil di antara lampu hijau, adalah bentuk aplikasi nyata dalam mengikuti jejak Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam. Perjalanan ibadah ini membuktikan bahwa keselamatan manusia di akhirat bergantung pada dua hal: memurnikan ibadah hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dan mengikuti sunnah Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam dengan benar.
Satu pelajaran berharga lainnya adalah bagaimana jamaah secara praktis mendahulukan urusan akhirat di atas dunia selama berada di tanah suci. Seseorang tidak lagi peduli dengan kekurangan materi, namun akan merasa sangat merugi jika kehilangan kesempatan meraih pahala akhirat. Hendaknya sikap mendahulukan akhirat, kemurnian tauhid, dan ketaatan pada sunnah ini terus dipegang teguh hingga akhir hayat.