Mewaspadai Tipu Daya Setan dan Pentingnya Tobat

Kategori : Kajian, Ditulis pada : 18 Januari 2026, 11:05:57

Ibadah umrah sering kali dianggap sebagai fase "puncak spiritual" di mana seorang hamba merasa sangat dekat dengan Allah. Namun, penting untuk disadari bahwa di tempat paling suci sekalipun, setan tidak pernah berhenti melancarkan tipu dayanya. Justru saat seorang mukmin berniat memperbaiki diri melalui umrah, setan akan bekerja ekstra keras membisikkan was-was agar niat kita bergeser, kekhusyukan hilang, atau bahkan merasa diri sudah suci sehingga meremehkan dosa. Memahami bagaimana strategi setan dalam menjanjikan kesenangan semu adalah bekal penting bagi jamaah agar perjalanan menuju Tanah Suci benar-benar menjadi sarana tobat yang tulus, bukan sekadar perjalanan fisik yang hampa akan makna spiritual akibat terperangkap dalam talbis (tipu daya) Iblis.

Mewaspadai Tipu Daya Setan dan Pentingnya Tobat

Setan senantiasa membisikkan godaan kepada manusia dengan menjanjikan keabadian dan kesenangan semu. Sebagaimana ia menggoda Nabi Adam 'Alaihissalam dengan tawaran untuk memakan buah yang diklaim akan membuatnya kekal dan memiliki kerajaan yang tidak akan pernah sirna. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

فَوَسْوَسَ إِلَيْهِ الشَّيْطَانُ قَالَ يَا آدَمُ هَلْ أَدُلُّكَ عَلَىٰ شَجَرَةِ الْخُلْدِ وَمُلْكٍ لَّا يَبْلَىٰ

"Kemudian setan membisikkan (pikiran jahat) kepadanya, dengan berkata, 'Wahai Adam, maukah aku tunjukkan kepadamu pohon keabadian (khuldi) dan kerajaan yang tidak akan binasa?'" (QS. Thaha[20]: 120)

Para ulama menjelaskan bahwa Iblis atau setan beserta bala tentaranya selalu membayangkan dalam pikiran manusia bahwa berbagai pelanggaran, maksiat, kemungkaran, atau sesuatu yang dibenci oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala adalah hal yang enak, menyenangkan, dan membahagiakan. Fenomena ini dikenal sebagai talbis Iblis atau tipu daya Iblis. Sebagai contoh, ada orang yang masih merasa sulit meninggalkan rokok karena terbayang kenikmatannya, atau merasa ide tidak akan keluar tanpa merokok. Padahal, promosi-promosi semacam itu hanyalah bentuk tipu daya setan untuk membinasakan manusia dan mencampakkannya ke dalam api neraka. Sesuatu yang sebenarnya merusak dikesankan sebagai jalan menuju kebahagiaan.

Setiap individu harus berhati-hati terhadap musuh nyata ini. Meskipun setan tidak terlihat, ia senantiasa mengawasi dan berada di mana saja manusia berada. Salah satu cara untuk menjauhkan setan adalah dengan mendengarkan adzan. Sebagaimana disebutkan dalam hadits Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam:

إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ أَدْبَرَ الشَّيْطَانُ وَلَهُ ضُرَاطٌ حَتَّى لَا يَسْمَعَ التَّأْذِينَ

"Apabila adzan shalat dikumandangkan, setan akan lari sambil terkentut-kentut hingga ia tidak mendengar suara adzan tersebut." (HR. Bukhari)

Meskipun demikian, setan tetap akan datang kembali, bahkan saat seseorang melakukan takbiratul ihram dalam shalat. Ia akan membisikkan berbagai hal untuk menghilangkan kekhusyukan dan mengganggu ibadah. Jika dalam ibadah saja setan terus mengganggu, terlebih lagi dalam aktivitas keseharian.

Penting untuk merenungkan ungkapan yang disampaikan oleh para ulama rahimahumullah mengenai kewaspadaan terhadap Iblis. Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah mengingatkan bahwa Nabi Adam 'Alaihissalam dikeluarkan dari surga yang penuh kenikmatan menuju dunia yang penuh penderitaan hanya karena satu kesalahan. Hal ini menjadi bahan renungan yang sangat besar bagi umat Islam.

Seseorang tidak boleh merasa aman dan pasti masuk surga sementara ia melakukan banyak dosa, bahkan dosa besar yang tidak terhitung jumlahnya. Sebuah keanehan jika ada manusia yang sering melakukan kesalahan namun merasa tenang akan masuk surga, sedangkan Nabi Adam 'Alaihissalam diturunkan ke dunia hanya karena satu kekeliruan. Kesadaran akan hal ini harus memicu kewaspadaan terhadap musuh yang datang dari golongan jin maupun manusia. Setiap manusia yang mengajak kepada keburukan dan kemaksiatan pada hakikatnya adalah setan dari golongan manusia. Oleh karena itu, perlindungan hanya dipohonkan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala:

مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ

"Dari (golongan) jin dan manusia." (QS. An-Nas[114]: 6)

Setiap hamba hendaknya senantiasa berhati-hati dan tidak terbuai oleh angan-angan kosong yang dibisikkan oleh setan.

Menyadari betapa halusnya tipu daya setan, maka perjalanan umrah harus kita jadikan momentum untuk memperkuat benteng pertahanan diri melalui ilmu dan tobat yang nasuha. Di Wipa Tour, kami sangat memperhatikan kondisi jamaah tidak hanya secara fisik, tetapi juga secara mental dan spiritual. Melalui bimbingan asatidzah yang intensif selama di Makkah dan Madinah, kami terus mengingatkan jamaah untuk waspada terhadap segala bentuk godaan yang dapat merusak kualitas ibadah. Karena bagi kami, kesuksesan umrah Anda bukan dilihat dari megahnya hotel atau lancarnya perjalanan, melainkan dari kembalinya Anda ke tanah air dengan hati yang lebih waspada terhadap kemaksiatan dan lebih mencintai ketaatan. Mari sempurnakan ikhtiar tobat Anda bersama Wipa Tour, travel yang peduli pada kemurnian ibadah Anda sesuai tuntunan Sunnah.

Chat Dengan Kami
built with : https://erahajj.co.id