Memurnikan Tauhid dan Menjauhi Kesyirikan
Inti dari ibadah umrah adalah memenuhi panggilan Allah dengan kalimat Talbiyah yang mengagungkan keesaan-Nya. Namun, sering kali tanpa disadari, jamaah terjebak dalam praktik-praktik yang justru menodai kemurnian tauhid saat berada di Tanah Suci. Kerinduan yang besar terhadap keberkahan terkadang disalahartikan dengan mengkultuskan benda-benda mati atau melakukan ritual yang tidak memiliki dasar syariat. Memahami perbedaan antara mengikuti Sunnah Nabi dan terjatuh dalam kesyirikan adalah bekal terpenting bagi setiap tamu Allah. Hal ini bertujuan agar perjalanan ribuan kilometer yang Anda tempuh benar-benar membuahkan pahala tauhid yang sempurna, bukan justru membawa pulang dosa syirik yang samar akibat ketidaktahuan.
Memurnikan Tauhid dan Menjauhi Kesyirikan
Menuntut ilmu adalah kewajiban yang harus terus dijalankan secara berkesinambungan. Ketidaktahuan terhadap perkara-perkara yang dilarang oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala merupakan kesempatan besar bagi setan untuk melakukan penipuan. Oleh karena itu, mempelajari kebaikan utama seperti tauhid adalah wajib, sebagaimana wajib pula mempelajari lawannya, yaitu syirik. Setiap muslim harus mengenali berbagai jenis kesyirikan yang banyak terjadi di tengah masyarakat.
Bentuk kesyirikan sangat beragam, mulai dari mendatangi dukun, tukang sihir, hingga peramal. Ada pula yang menggantungkan jimat atau memakai cincin dengan keyakinan bahwa benda tersebut dapat mendatangkan rezeki serta menjaga diri dari keburukan. Selain itu, praktik berziarah ke makam para wali dengan niat meminta berkah secara langsung kepada penghuni kubur juga termasuk kesyirikan. Bahkan di tempat suci seperti Masjid Nabawi atau Masjidil Haram, masih ditemukan orang-orang yang mengusap serta mencium bagian dari Ka'bah dengan keyakinan bahwa benda-benda tersebut memberikan berkah di luar syariat.
Pernah ditemukan jamaah yang mengambil batu di perkebunan kurma dengan keyakinan bahwa batu tersebut dapat menjadi obat bagi anak yang sakit. Padahal, benda mati tidak memiliki kekuatan untuk memberikan manfaat atau mudarat. Hal ini mengingatkan pada ketegasan Umar bin Khattab Radhiyallahu 'Anhu saat mencium Hajar Aswad. Beliau berkata:
إِنِّي أَعْلَمُ أَنَّكَ حَجَرٌ لَا تَضُرُّ وَلَا تَنْفَعُ وَلَوْلَا أَنِّي رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُقَبِّلُكَ مَا قَبَّلْتُكَ
"Sesungguhnya aku tahu bahwa engkau hanyalah batu yang tidak bisa memberikan mudharat maupun manfaat. Seandainya aku tidak melihat Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam menciummu, niscaya aku tidak akan menciummu." (HR. Bukhari)
Syariat hanya menganjurkan untuk mencium Hajar Aswad atau mengusap Rukun Yamani karena mengikuti contoh Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam, bukan karena keyakinan akan kekuatan benda tersebut. Maka, tindakan menggunting kain penutup Ka'bah (Kiswah) untuk dijadikan jimat atau menampung air hujan dari pancuran emas (Mizab) dengan keyakinan mistis merupakan bentuk ketertipuan oleh setan yang menjerumuskan pada kesyirikan.
Dalam sebuah khotbah Jumat, Syaikh Abdul Malik Ramadhan memuji Indonesia sebagai negeri yang subur dengan penduduk yang memiliki akhlak mulia dan kesantunan yang baik. Jamaah haji Indonesia dikenal penurut dan teratur dibandingkan jamaah dari negara lain. Namun, beliau juga memberikan penekanan penting mengenai tauhid di Indonesia. Beliau menyoroti adanya tradisi yang mengharuskan seseorang menundukkan badan secara berlebihan saat memberi hormat atau melakukan sungkem hingga posisi sujud di kaki orang tua.
Praktik rukuk dan sujud secara hakiki hanya boleh diperuntukkan bagi Allah Subhanahu wa Ta'ala. Menundukkan badan hingga posisi menyerupai ruku merupakan perkara yang dibahas dalam Kitab Tauhid sebagai hal yang dapat mengurangi kemurnian tauhid seseorang. Untuk menyempurnakan tauhid, setiap kebiasaan yang berpotensi melanggar batas-batas peribadatan harus diperhatikan dengan saksama. Ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala harus tetap menjadi prioritas utama di atas segala adat dan tradisi manusia.
Sikap sopan merupakan bagian dari akhlak yang mulia, namun tidak boleh dilakukan secara berlebihan hingga melanggar batas syariat. Perilaku menundukkan badan menyerupai rukuk, apalagi sampai sujud di hadapan manusia, adalah sebuah kesalahan yang harus diperbaiki. Kesyirikan merupakan salah satu tipu daya setan terbesar untuk menyesatkan manusia. Oleh karena itu, mempelajari sunnah Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam adalah kewajiban, sebagaimana wajib pula mengetahui berbagai perkara bid'ah agar tidak terjatuh ke dalamnya.
Memurnikan tauhid adalah perjalanan seumur hidup yang ujiannya bisa datang bahkan di depan Ka’bah sekalipun. Di Wipa Tour, kami sangat perhatian dengan kondisi jamaah, terutama dalam menjaga kemurnian akidah selama beribadah. Kami menyadari bahwa tanpa bimbingan ilmu yang benar, niat baik bisa saja berujung pada kekeliruan. Oleh karena itu, asatidzah kami senantiasa memberikan pendampingan intensif untuk meluruskan niat dan tata cara ibadah sesuai tuntunan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam. Bersama Wipa Tour, Anda tidak hanya diajak menunaikan rukun umrah secara fisik, tetapi juga dibimbing untuk membersihkan hati dari noda-noda kesyirikan. Mari raih umrah yang mabrur dengan tauhid yang murni bersama kami, mitra perjalanan ibadah yang amanah dan sesuai Sunnah.