Keagungan Ibadah Haji

Kategori : Haji, Kajian, Ditulis pada : 21 Januari 2026, 18:55:30

Bulan haram merupakan waktu yang sangat dicintai dan diridhai oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala. Seseorang yang melakukan amal kebaikan pada waktu ini akan menuai pahala yang besar dan melimpah. Di antara ibadah yang paling agung dan mulia di sisi Allah Subhanahu wa Ta'ala adalah melaksanakan ibadah haji.

Kewajiban Haji bagi yang Mampu

Allah Subhanahu wa Ta'ala telah mewajibkan ibadah haji atas setiap muslim yang telah mukallaf. Allah memanggil hamba-hamba-Nya untuk datang ke Baitullah guna beribadah, merendahkan diri, membesarkan nama-Nya, serta bermunajat kepada-Nya. Kewajiban ini ditegaskan dalam Al-Qur'an:

وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا

"Dan (di antara) kewajiban manusia terhadap Allah adalah melaksanakan ibadah haji ke Baitullah, yaitu bagi orang-orang yang mampu mengadakan perjalanan ke sana." (QS. Ali 'Imran[3]: 97)

Ibadah haji dilaksanakan pada bulan haram dengan rangkaian manasik yang dimulai sejak tanggal 8 Dzulhijah. Puncaknya terjadi pada tanggal 9 Dzulhijah, yaitu hari Arafah, saat seluruh jamaah bertolak ke Arafah untuk melaksanakan wukuf. Ibadah ini berakhir pada tanggal 12 Dzulhijjah bagi yang mengambil nafar awal atau tanggal 13 Dzulhijjah bagi yang mengambil nafar tsani setelah menyelesaikan mabit di Mina. Rangkaian tersebut ditutup dengan tawaf haji atau tawaf wada sebelum jamaah kembali ke tanah air masing-masing.

Ibadah haji termasuk dalam rukun Islam yang menunjukkan keagungan agama ini. Kesempurnaan keislaman seseorang bergantung pada pemenuhan lima pondasi dasar. Hal ini sesuai dengan sabda Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam:

بُنِيَ الإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ، وَإِقَامِ الصَّلاَةِ، وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ، وَالْحَجِّ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ

"Islam dibangun di atas lima perkara: bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, haji, dan puasa Ramadhan." (HR. Bukhari dan Muslim)

Memahami Hakikat Syahadat

Pilar pertama adalah syahadat, yang bukan sekadar ucapan di lisan, melainkan harus diyakini di dalam hati dan dibuktikan melalui amal perbuatan sebagai konsekuensinya. Seseorang yang bersyahadat wajib memahami maknanya dengan benar.

Masih banyak orang yang belum memahami makna mendalam dari Laailaahaillallah. Sering kali ungkapan tersebut hanya dimaknai sebagai "tidak ada Tuhan selain Allah". Penerjemahan ini mengandung kerancuan secara aqidah; jika dimaknai demikian, maka segala sesuatu yang dituhankan oleh manusia (seperti berhala, api, atau matahari) seolah-olah adalah Allah. Padahal, makna yang tepat dari Laailaahaillallah adalah "tidak ada sesembahan yang benar dan berhak disembah selain Allah 'Azza wa Jalla". Penegasan ini membedakan antara Sang Pencipta dengan segala tuhan palsu yang disembah oleh berbagai kaum di muka bumi.

Memahami makna syahadat merupakan kewajiban bagi setiap muslim. Kekeliruan dalam memaknai Laailaahaillallah dapat berakibat fatal secara aqidah. Jika hanya dimaknai "tidak ada Tuhan selain Allah", hal itu memunculkan kerancuan bahwa segala sesuatu yang dituhankan manusia adalah Allah. Oleh karena itu, siapa pun yang mengucapkan syahadat wajib mempelajari maknanya, rukun-rukunnya, syarat-syaratnya, pembatalnya, hingga konsekuensinya. Seseorang tidak bisa merasa urusannya selesai hanya dengan berucap syahadat, namun ia tetap meninggalkan shalat, tidak menutup aurat, atau tidak menjauhi keharaman. Demikian pula dengan syahadat Muhammad Rasulullah yang wajib diketahui maknanya.

Kewajiban Shalat Lima Waktu

Rukun Islam yang kedua adalah mendirikan shalat lima waktu sehari semalam. Salat subuh, zuhur, asar, magrib, dan isya hukumnya wajib dan tidak boleh ditinggalkan. Hal ini merujuk pada hadits saat seorang sahabat bertanya kepada Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam mengenai shalat yang Allah wajibkan atasnya, dan beliau menjawab:

خَمْسُ صَلَوَاتٍ فِي الْيَوْمِ وَاللَّيْلَةِ

"Salat lima waktu dalam sehari semalam." (HR. Bukhari dan Muslim)

Meninggalkan shalat merupakan dosa yang sangat besar, bahkan lebih besar daripada membunuh, berzina, atau meminum khamar. Namun, banyak orang yang menganggap remeh perkara ini. Dahulu para imam menyatakan bahwa orang yang meninggalkan shalat harus ditangkap dan diperintahkan bertobat. Para orang tua juga hendaknya tidak membiarkan anak-anak mereka meninggalkan shalat. Kesedihan dan kemarahan orang tua saat anaknya tidak melakukan shalat seharusnya jauh lebih besar dibandingkan saat anak melakukan perbuatan maksiat lainnya.

Ibadah shalat harus sesuai dengan tuntunan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam, bukan berdasarkan akal atau perasaan semata. Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam pernah sengaja melakukan shalat di atas mimbar agar para sahabat dapat melihat dengan jelas cara beliau rukuk dan sujud. Beliau Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda:

صَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي

"Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat." (HR. Bukhari)

Penting bagi setiap muslim untuk meluangkan waktu mempelajari sifat salat Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam. Hal ini sangat bermanfaat sebagai bekal saat berdiri di hadapan Allah Subhanahu wa Ta'ala kelak, karena salat adalah amalan yang pertama kali dihisab. Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda:

إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ الْعَبْدُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ عَمَلِهِ صَلَاتُهُ

"Sesungguhnya amalan hamba yang pertama kali dihisab pada hari kiamat adalah shalatnya." (HR. Tirmidzi)

Keluarga, baik istri maupun anak-anak, perlu diajak duduk bersama untuk mempelajari tata cara shalat yang benar melalui buku-buku yang terpercaya. Hal-hal teknis seperti posisi tangan saat takbir, cara bersedekap yang benar di atas dada, hingga kelurusan punggung saat rukuk harus dipelajari dengan saksama. Orang tua harus menjadi guru pertama bagi anak-anaknya dalam perkara salat ini, karena kewajiban shalat akan terus melekat pada setiap muslim sampai akhir hayat.

Orang tua hendaknya tidak membiarkan seluruh pelajaran agama anak, mulai dari hal terkecil hingga terbesar, hanya diajarkan oleh guru. Setiap orang tua perlu memahami dasar-dasar agama agar dapat mendidik anak secara langsung. Hal ini penting agar pahala ibadah anak, terutama shalat, terus mengalir kepada orang tuanya.

Peran kepala keluarga sangat krusial dalam mengimami serta membimbing istri dan anak-anak. Ada sebuah teladan luhur ketika seorang orang tua menitipkan anaknya kepada guru mengaji dan berpesan agar sang guru mengajarkan seluruh isi Al-Qur'an kecuali surat Al-Fatihah. Orang tua tersebut ingin bagian surat Al-Fatihah diajarkan oleh dirinya sendiri agar setiap kali sang anak membacanya dalam shalat, pahalanya mengalir kepadanya. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا

"Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka." (QS. At-Tahrim[66]: 6)

Selain pendidikan dasar dan shalat lima waktu—yang mana bagi laki-laki wajib dilaksanakan secara berjamaah—seorang muslim juga harus memahami pilar Islam lainnya:

  1. Zakat: Mempelajari syarat harta yang wajib dizakati, cara mengeluarkan, dan kepada siapa zakat tersebut disalurkan.
  2. Puasa Ramadhan: Menjalankan ibadah puasa di bulan suci.
  3. Haji: Mendatangi Baitullah bagi yang mampu.

Panggilan Haji sebagai Kewajiban Seumur Hidup

Allah Subhanahu wa Ta'ala telah memerintahkan Nabi Ibrahim Alaihissalam untuk mengumumkan ibadah haji kepada seluruh umat manusia. Haji adalah panggilan Allah Subhanahu wa Ta'ala yang tidak boleh disia-siakan. Hukum melaksanakan haji adalah wajib bagi setiap muslim sebanyak satu kali seumur hidup. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

وَأَذِّن فِي النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوكَ رِجَالًا وَعَلَىٰ كُلِّ ضَامِرٍ يَأْتِينَ مِن كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ

"Dan serukanlah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh." (QS. Al-Hajj[22]: 27)

Orang-orang shalih terdahulu sangat mengagungkan ibadah ini. Meskipun kewajibannya hanya sekali seumur hidup, mereka melaksanakannya berkali-kali karena besarnya ganjaran dari Allah 'Azza wa Jalla. Dalam sebuah hadits, ketika Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam menyampaikan kewajiban haji, seorang sahabat bertanya apakah kewajiban tersebut berlaku setiap tahun. Beliau Shallallahu 'Alaihi wa Sallam menjawab:

لَوْ قُلْتُ نَعَمْ لَوَجَبَتْ وَلَمَا اسْتَطَعْتُمْ

"Sekiranya aku katakan ya, niscaya akan menjadi wajib (setiap tahun) dan kalian tidak akan sanggup melakukannya." (HR. Muslim)

Memahami hakikat syahadat dan memperbaiki kualitas shalat adalah pondasi utama sebelum kita melangkah memenuhi panggilan Haji. Ibadah yang agung ini menuntut kesiapan ilmu dan kemurnian hati agar setiap rangkaian manasik, mulai dari wukuf di Arafah hingga tawaf wada, diterima sebagai amal shalih yang sempurna. Wipa Tour hadir sebagai mitra terpercaya untuk mendampingi Anda menunaikan rukun Islam kelima ini dengan bimbingan yang sesuai Sunnah dan pelayanan yang penuh empati. Jangan tunda kesempatan untuk menyempurnakan agama Anda. Mari raih predikat Haji Mabrur melalui persiapan yang matang dan bimbingan yang tepat. Segera wujudkan niat suci Anda dan daftar Paket Haji Wipa Tour melalui link berikut: wipatour.co.id/transaksi/paket-haji.

Chat Dengan Kami
built with : https://erahajj.co.id