Syarat Kemampuan Berhaji
Ibadah Umrah sering kali menjadi pintu pembuka bagi kerinduan yang lebih besar, yaitu menunaikan ibadah Haji yang merupakan rukun Islam kelima. Namun, banyak dari kita yang masih bimbang, kapan sebenarnya seseorang dianggap benar-benar "mampu" untuk berangkat? Di Wipa Tour, kami sangat perhatian dengan kondisi jamaah, tidak hanya dari sisi kesiapan finansial, tetapi juga kesiapan fisik dan pemahaman syariat. Memahami syarat istitha'ah (kemampuan) adalah langkah awal agar kita tidak menunda kewajiban ini saat kesehatan dan kelapangan rezeki masih Allah titipkan di tangan kita.
Syarat Kemampuan Berhaji
Umar bin Khattab Radhiyallahu 'Anhu sangat menekankan pengagungan terhadap ibadah haji. Seseorang dianggap memiliki kemampuan untuk berhaji apabila memenuhi kriteria dasar, di antaranya adalah kesehatan fisik yang memadai. Kesehatan yang bagus dan terhindar dari penyakit yang menghalangi perjalanan menjadi modal utama bagi seorang hamba untuk memenuhi panggilan Allah Subhanahu wa Ta'ala ke tanah suci.
Kemampuan untuk melaksanakan ibadah haji merupakan syarat wajib yang harus dipenuhi oleh setiap muslim. Secara garis besar, terdapat tiga kriteria utama yang menentukan apakah seseorang sudah dianggap mampu untuk memenuhi panggilan Allah Subhanahu wa Ta'ala ke Baitullah.
Kriteria Kemampuan Fisik dan Finansial
Pertama, seseorang harus memiliki kesehatan fisik yang memadai. Ibadah haji melibatkan serangkaian aktivitas fisik yang berat, sehingga kesehatan menjadi modal utama agar ibadah dapat dijalankan secara sempurna.
Kedua, adanya kelapangan rezeki. Biaya haji bagi umat muslim yang jauh dari Makkah mencakup biaya perjalanan yang besar serta biaya hidup selama di sana. Selain menyediakan biaya keberangkatan, seseorang wajib menjamin nafkah keluarga yang ditinggalkan. Kelapangan rezeki ini mencakup ketersediaan dana agar keluarga di rumah tetap dapat memenuhi kebutuhan makan dan kebutuhan pokok lainnya selama masa ditinggalkan.
Ketiga, ketersediaan sarana transportasi. Hal ini mencakup adanya kendaraan atau akses untuk melakukan perjalanan menuju tanah suci. Meskipun sebagian ulama memasukkan poin ini ke dalam kriteria finansial, sebagian lainnya memisahkannya sebagai poin tersendiri untuk menegaskan pentingnya keamanan dan ketersediaan jalur perjalanan. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا
"Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah." (QS. Ali 'Imran[3]: 97)
Peringatan bagi yang Menunda Haji
Terdapat peringatan keras bagi orang yang sudah memiliki kesehatan dan kelapangan harta namun tetap enggan menunaikan haji. Umar bin Khattab Radhiyallahu 'Anhu menegaskan bahwa orang yang mampu namun tidak berhaji hingga akhir hayatnya, maka tidak ada bedanya apakah ia mati dalam keadaan sebagai Yahudi atau Nasrani.
Dalam sebuah Hadits Qudsi yang diriwayatkan dari Abu Sa'id al-Khudri Radhiyallahu 'Anhu, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda bahwa Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
"Sesungguhnya seorang hamba yang telah Aku sehatkan tubuhnya dan Aku lapangkan penghidupannya (rezekinya), lalu berlalu waktu lima tahun namun ia tidak datang menemui-Ku (untuk berhaji/berumrah), benar-benar ia adalah orang yang terhalang dari kebaikan." (HR. Ibnu Hiban, Al-Baihaqi, dishahihkan oleh Al-Albani)
Menyeimbangkan Urusan Dunia dan Akhirat
Kesehatan dan kelapangan harta yang diberikan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat kelak. Manusia hendaknya tidak hanya menggunakan nikmat tersebut untuk mencari kesenangan duniawi dan melupakan kewajiban kepada Penciptanya.
Allah Subhanahu wa Ta'ala tidak menuntut hambaNya untuk menghabiskan seluruh waktu hanya untuk membaca Al-Qur'an, mengerjakan shalat, atau berpuasa tanpa henti. Namun, setiap muslim wajib menempatkan waktu-waktu tertentu untuk menunaikan kewajiban ibadah yang telah ditetapkan. Kesadaran akan tanggung jawab di hadapan Allah 'Azza wa Jalla harus menjadi pedoman dalam mengelola sisa umur, harta, dan kesehatan yang dimiliki.
Jangan sampai nikmat kesehatan dan harta yang Allah berikan justru menjadi saksi yang memberatkan kita di akhirat karena digunakan hanya untuk mengejar dunia. Jika Anda telah merasakan nikmatnya berumroh, kini saatnya memantapkan niat untuk menyempurnakan rukun Islam sebelum kesempatan itu hilang. Wipa Tour hadir untuk membantu Anda mengelola niat suci tersebut dengan penyediaan transportasi yang aman, bimbingan kesehatan, dan asatidzah yang akan membimbing ibadah Anda sesuai Sunnah. Mari jemput pertolongan Allah dan segera rencanakan keberangkatan Haji Anda.
Cek pilihan paket dan pendaftaran Haji Wipa Tour di: wipatour.co.id/transaksi/paket-haji. Jangan biarkan lima tahun berlalu tanpa mengunjungi rumah-Nya saat Anda telah mampu.