Haji Mabrur: Investasi Surga Jangan Ditunda
Bagi setiap muslim yang telah merasakan manisnya ibadah Umrah, kerinduan untuk kembali ke Tanah Suci guna menyempurnakan Rukun Islam kelima tentu semakin membuncah. Namun, sering kali kita terjebak dalam menumpuk pernak-pernik dunia dan menunda kewajiban yang paling utama. Padahal, jika Umrah ke Umrah berikutnya adalah penggugur dosa, maka Haji memiliki kedudukan yang jauh lebih tinggi di sisi Allah. Di Wipa Tour, kami sangat perhatian dengan kondisi jamaah, terutama bagi Anda yang ingin segera menunaikan kewajiban tanpa terkendala masa tunggu yang sangat lama. Memahami bahwa harta hanyalah titipan, maka mengalokasikannya untuk perjalanan Haji adalah bentuk perniagaan terbaik dengan Sang Pencipta.
Hukum syariat dibangun di atas dalil, dan tidak ada yang berhak menetapkan hukum tersebut kecuali Allah Subhanahu wa Ta'ala. Dalam urusan duniawi, memiliki harta seperti rumah mewah, mobil terbaru, perusahaan, atau perkebunan sawit yang luas hukumnya adalah mubah atau diperbolehkan, namun bukan merupakan kewajiban. Sebaliknya, ibadah haji bagi yang mampu adalah kewajiban yang harus didahulukan daripada sekadar mengumpulkan pernak-pernik dunia.
Urgensi Menunaikan Haji dan Pilihan Jalur Keberangkatan
Persoalan waktu tunggu menjadi kendala nyata saat ini. Jika melalui jalur haji reguler, masa tunggu bisa mencapai puluhan tahun. Bagi seseorang yang sudah berusia lanjut, waktu tunggu tersebut sangat berisiko karena ajal bisa datang kapan saja. Oleh karena itu, jalur haji seperti haji plus menjadi pilihan bagi mereka yang memiliki kelapangan harta untuk segera berangkat tanpa harus menunggu lama.
Meskipun biaya yang dikeluarkan besar, nilai tersebut tidak sebanding dengan balasan yang dijanjikan. Seseorang tidak perlu merasa rugi mengeluarkan harta demi memenuhi panggilan Allah 'Azza wa Jalla. Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam yang tidak berbicara berdasarkan hawa nafsu telah menjanjikan balasan yang luar biasa bagi haji yang mabrur:
الْعُمْرَةُ إِلَى الْعُمْرَةِ كَفَّارَةٌ لِمَا بَيْنَهُمَا، وَالْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلَّا الْجَنَّةُ
"Umrah ke umrah berikutnya adalah penggugur dosa di antara keduanya, dan haji yang mabrur tidak ada balasan baginya kecuali surga." (HR. Bukhari dan Muslim)
Kesucian Setelah Ibadah Haji
Salah satu keutamaan besar ibadah haji adalah penghapusan dosa secara menyeluruh. Seseorang yang kembali dari ibadah haji dengan benar akan berada dalam kondisi suci seperti bayi yang baru dilahirkan. Bayi lahir dalam keadaan fitrah dan tidak memikul dosa siapa pun. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَى
"Dan orang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain." (QS. Al-An'am[6]: 164)
Ibadah haji harus dilakukan semata-mata karena Allah Subhanahu wa Ta'ala, bukan untuk mengejar gelar "Pak Haji" atau agar dihormati oleh masyarakat. Niat yang tulus menjadi penentu apakah ibadah tersebut diterima atau tidak.
Syarat Meraih Haji yang Mabrur
Untuk mendapatkan keutamaan kembali suci seperti saat lahir, seorang jemaah haji wajib menjaga lisan dan perbuatannya selama di tanah suci. Hal ini mencakup larangan berbuat rafats (berkata-kata porno atau melakukan hal yang membangkitkan syahwat antara suami istri) serta larangan berbuat fasik atau kemaksiatan. Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda:
مَنْ حَجَّ لِلَّهِ فَلَمْ يَرْفُثْ وَلَمْ يَفْسُقْ رَجَعَ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ
"Barangsiapa yang berhaji karena Allah, lalu dia tidak berkata-kata jorok (rafats) dan tidak berbuat kefasikan, maka dia kembali seperti hari saat dilahirkan oleh ibunya." (HR. Bukhari)
Seluruh biaya yang dikeluarkan, berapapun jumlahnya, sejatinya berasal dari rezeki yang diberikan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala. Maka, sangat tepat jika harta tersebut dikembalikan dalam bentuk ketaatan kepada-Nya. Tidak ada satu pun kebaikan yang dirasakan oleh manusia melainkan itu semua datang dari karunia Allah 'Azza wa Jalla.
Seluruh harta dan rezeki pada hakikatnya datang dari Allah Subhanahu wa Ta'ala. Seseorang tidak sepatutnya bersikap kikir untuk mengeluarkan hartanya di jalan Allah 'Azza wa Jalla, karena apa yang dimiliki akan kembali kepada-Nya. Terdapat orang-orang cerdas yang memahami hal ini, seperti seorang dokter yang mengabdikan kekayaannya untuk berdakwah dan mengislamkan puluhan ribu orang. Ia menyadari bahwa setelah kebutuhan anak dan istri tercukupi, harta harus dikembalikan untuk kepentingan agama Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Teladan Sahabat dan Makna Harta Sejati
Para sahabat Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam telah memberikan teladan luar biasa dalam mengelola kekayaan. Sahabat yang sangat kaya pernah menyatakan bahwa apapun yang beliau pegang seolah berubah menjadi emas. Menjelang wafatnya, selain membagikan warisan kepada anak dan istri, beliau mewasiatkan agar sisa hartanya diberikan kepada para veteran Perang Badar. Masing-masing mendapatkan 40.000 dinar, sebuah angka yang sangat fantastis jika dikonversi ke nilai mata uang saat ini.
Harta yang sesungguhnya bukanlah apa yang disimpan atau ditinggalkan untuk ahli waris, melainkan apa yang telah dikonsumsi dan diinfakkan. Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam menjelaskan mengenai harta manusia:
يَقُولُ الْعَبْدُ مَالِي مَالِي إِنَّمَا لَهُ مِنْ مَالِهِ ثَلاَثٌ مَا أَكَلَ فَأَفْنَى أَوْ لَبِسَ فَأَبْلَى أَوْ أَعْطَى فَاقْتَنَى وَمَا سِوَى ذَلِكَ فَهُوَ ذَاهِبٌ وَتَارِكُهُ لِلنَّاسِ
"Seorang hamba berkata, 'Hartaku, hartaku!' Padahal tidak ada baginya dari hartanya kecuali tiga hal: apa yang ia makan lalu ia habiskan, apa yang ia pakai lalu ia luskankan, atau apa yang ia berikan (sedekahkan) lalu ia simpan (sebagai pahala). Dan apa yang selain itu, maka ia akan pergi dan ia tinggalkan untuk orang lain." (HR. Muslim)
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam juga pernah bertanya kepada para sahabat mengenai siapa yang lebih mencintai harta ahli warisnya daripada hartanya sendiri. Beliau menjelaskan bahwa harta milik pribadi adalah apa yang diinfakkan, sedangkan harta yang disimpan adalah milik ahli waris. Seseorang tidak mengetahui apakah harta yang ditinggalkan kelak akan dipergunakan oleh ahli waris di jalan Allah Subhanahu wa Ta'ala atau justru untuk memuaskan hawa nafsu.
Kembali dalam keadaan suci layaknya bayi yang baru lahir adalah dambaan setiap hamba, dan ibadah Haji adalah gerbang utamanya. Jangan biarkan usia dan waktu tunggu reguler menjadi penghalang bagi Anda yang telah diberikan kelapangan rezeki oleh Allah. Wipa Tour hadir memberikan solusi melalui layanan Haji yang amanah dan sesuai Sunnah, membantu Anda mewujudkan niat suci tanpa harus menunggu puluhan tahun.
Mari prioritaskan bekal akhirat Anda dan jemput janji surga melalui bimbingan asatidzah kami yang berpengalaman. Daftarkan diri Anda sekarang melalui jalur Haji Wipa Tour di: wipatour.co.id/transaksi/paket-haji. Bersama Wipa, kami dampingi langkah Anda menuju Haji yang Mabrur.