Penyesalan Akibat Menunda Haji

Kategori : Haji, Ditulis pada : 24 Januari 2026, 17:59:09

Melaksanakan Umrah adalah awal yang indah untuk mencicipi nikmatnya beribadah di Baitullah. Banyak jamaah yang setelah merasakan kedamaian di Makkah dan Madinah, justru merasa menyesal karena tidak menyegerakan pendaftaran Haji sejak muda. Sering kali, kita lebih mendahulukan kenyamanan duniawi seperti kendaraan atau gaya hidup, hingga tanpa sadar kesempatan fisik dan waktu luang perlahan sirna. Di Wipa Tour, kami sangat perhatian dengan kondisi jamaah yang ingin memutus rantai penyesalan tersebut dengan memberikan solusi keberangkatan yang pasti bagi mereka yang telah Allah mampukan secara harta dan kesehatan.

Penyesalan Akibat Menunda Haji

Keinginan untuk berangkat haji tidak boleh ditunda sampai keadaan menjadi sulit. Pengalaman penutupan akses perjalanan atau situasi perang harus menjadi pelajaran agar ibadah ini segera ditunaikan saat sarana masih tersedia. Sering terjadi penyesalan pada usia tua karena dahulu lebih mementingkan urusan duniawi.

Terdapat kisah seseorang yang pada masa mudanya memiliki dana cukup untuk berhaji, namun ia lebih memilih menggunakan uang tersebut untuk membeli mobil baru. Saat keinginan haji muncul sepuluh tahun kemudian, ia harus menghadapi kenyataan berupa antrean haji yang sangat panjang. Penyesalan tersebut timbul karena ia mendahulukan hawa nafsu dan kesenangan duniawi yang bersifat sementara daripada mengejar keutamaan surga. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

وَأَنفِقُوا مِن مَّا رَزَقْنَاكُم مِّن قَبْلِ أَن يَأْتِيَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوْلَا أَخَّرْتَنِي إِلَىٰ أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُن مِّنَ الصَّالِحِينَ

"Dan infakkanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum kematian datang kepada salah seorang di antara kamu; lalu dia berkata (dengan penyesalan), 'Ya Tuhanku, sekiranya Engkau berkenan menunda (kematianku) sedikit waktu lagi, maka aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang shalih'." (QS. Al-Munafiqun[63]: 10)

Kesempatan untuk berhaji adalah nikmat yang besar. Orang-orang shalih terdahulu tidak hanya berhaji sekali, tetapi berkali-kali karena mereka memahami besarnya balasan yang disediakan oleh Allah 'Azza wa Jalla. Maka dari itu, sebelum masa tua dan ajal menjemput, setiap muslim yang mampu hendaknya segera memenuhi panggilan ke Baitullah.

Banyak orang shalih terdahulu sangat menginginkan ibadah haji karena mengetahui besarnya ganjaran yang disediakan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala. Meskipun kewajiban haji hanya sekali seumur hidup, terdapat individu yang menunaikannya hingga 70 kali atau 40 kali. Para ulama besar, seperti Said bin Musayyib dan Muhammad bin Al-Munkadir, tercatat melakukan haji sebanyak 40 kali. Terhadap orang yang mampu menunaikan haji setiap tahun, hendaknya didoakan agar Allah 'Azza wa Jalla senantiasa menjaga keikhlasan hati mereka.

Keutamaan Wafat dalam Keadaan Ihram

Sebagian muslim memiliki angan-angan untuk wafat saat melaksanakan ibadah haji. Seseorang yang meninggal dunia dalam keadaan mengenakan kain ihram akan mendapatkan kemuliaan di hari kiamat. Jenazahnya tidak ditutupi seperti jenazah pada umumnya, melainkan tetap mengenakan kain ihramnya. Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda mengenai orang yang wafat saat wukuf:

اغْسِلُوهُ بِمَاءٍ وَسِدْرٍ، وَكَفِّنُوهُ فِي ثَوْبَيْهِ، وَلاَ تُخَمِّرُوا رَأْسَهُ، فَإِنَّ اللَّهَ يَبْعَثُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مُلَبِّيًا

"Mandikanlah dia dengan air dan daun bidara, kafanilah dengan dua kain ihramnya, dan jangan tutup kepalanya, karena sesungguhnya Allah akan membangkitkannya pada hari kiamat dalam keadaan bertalbiyah." (HR. Bukhari dan Muslim)

Larangan Menunda Haji dan Syarat Harta Halal

Ibadah haji tidak boleh ditunda jika kesempatan dan dana sudah tersedia. Menunda-nunda keberangkatan hanya akan mendatangkan penyesalan di kemudian hari. Selain faktor waktu, hal yang paling krusial dalam berhaji adalah memastikan bahwa harta yang digunakan berasal dari sumber yang halal. Allah Subhanahu wa Ta'ala adalah Zat Yang Mahabaik dan tidak akan menerima kecuali amalan yang bersumber dari hal-hal yang baik pula. Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda:

إِنَّ اللَّهَ طَيِّبٌ لَا يَقْبَلُ إِلَّا طَيِّبًا

"Sesungguhnya Allah itu Maha Baik dan tidak menerima kecuali yang baik." (HR. Muslim)

Ibadah haji harus dilakukan semata-mata karena Allah Subhanahu wa Ta'ala dan jauh dari sifat riya atau pamer. Kisah perjuangan para salaf dalam menunaikan haji memberikan pelajaran berharga tentang bagaimana seharusnya seorang hamba mengagungkan panggilan Tuhannya.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala senantiasa memberikan kesehatan, kelapangan rezeki, serta kemudahan bagi setiap muslim agar dapat tertulis sebagai tamu-Nya di tanah suci untuk menunaikan ibadah haji yang mabrur.

Kematian adalah kepastian yang tidak bisa ditunda, namun Haji adalah kesempatan yang sering kita sia-siakan. Sebelum pintu usia tertutup dan penyesalan sedalam apa pun tak lagi berguna, mari manfaatkan kelapangan rezeki Anda untuk menggapai kemuliaan wafat dalam ketaatan atau pulang dengan kesucian fitrah. Wipa Tour siap membantu Anda mewujudkan niat mulia ini tanpa harus menunggu waktu puluhan tahun yang penuh ketidakpastian.

Dengan bimbingan syariat yang murni dan pelayanan yang amanah, kami mengajak Anda untuk segera menyempurnakan rukun Islam Anda. Amankan porsi keberangkatan Anda sekarang melalui paket Haji Wipa Tour di: wipatour.co.id/transaksi/paket-haji.

Chat Dengan Kami
built with : https://erahajj.co.id