Mekah & Madinah: Pelabuhan Rindu dan Kota Suci Tertua di Dunia
Kerinduan untuk menginjakkan kaki di Tanah Suci bukanlah sekadar luapan emosi biasa, melainkan buah dari doa Nabi Ibrahim 'Alaihissalam yang dikabulkan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala. Makkah dan Madinah bukan hanya destinasi dengan perbukitan batu yang gersang, melainkan pusat magnet spiritual di mana iman akan selalu kembali pulang. Sebagai kota tertua yang menyimpan Baitullah—rumah ibadah pertama yang dibangun untuk manusia—Makkah memiliki daya tarik batin yang tak tertandingi oleh keindahan panorama manapun di dunia. Memahami kemuliaan kedua kota ini adalah langkah awal bagi setiap mukmin untuk mempersiapkan perjalanan ibadah Umrah dan Haji dengan hati yang penuh pengagungan.
Allah Subhanahu wa Ta'ala mensucikan dua tanah di muka bumi, yaitu tanah Mekah dan tanah Madinah, serta menjadikannya sebagai tanah haram. Tanah Mekah diharamkan melalui lisan Nabi Ibrahim 'Alaihissalam, sedangkan tanah Madinah diharamkan oleh Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam. Kedua tempat ini merupakan pusat ibadah yang agung bagi kaum muslimin di seluruh dunia.
Keindahan yang terpancar dari Mekah dan Madinah bukanlah sekadar keindahan fisik atau panorama alam. Jika ditinjau dari sisi geografis, wilayah tersebut didominasi oleh perbukitan batu yang gersang, tanpa hamparan sawah hijau atau gunung-gunung indah seperti yang ada di Indonesia. Namun, keindahan sejati kedua kota ini terletak pada keindahan batinnya. Keindahan spiritual ini jauh lebih besar dan bermakna daripada sekadar keindahan fisik.
Rasa rindu yang senantiasa muncul di hati setiap orang yang pernah mengunjunginya merupakan bukti pengabulan doa Nabi Ibrahim 'Alaihissalam. Beliau memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala agar hati manusia cenderung dan selalu ingin kembali ke tempat tersebut. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِّنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ
"Maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka." (QS. Ibrahim[14]: 37)
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam juga mengabarkan keistimewaan iman yang akan selalu kembali ke dua kota suci ini. Dalam sebuah hadits, beliau bersabda:
إِنَّ الْإِيمَانَ لَيَأْرِزُ إِلَى الْمَدِينَةِ كَمَا تَأْرِزُ الْحَيَّةُ إِلَى جُحْرِهَا
"Sesungguhnya iman akan kembali ke Madinah sebagaimana ular kembali ke sarangnya." (HR. Bukhari dan Muslim)
Di mana pun kaum muslimin berada, hati mereka akan selalu terpaut dan rindu untuk kembali lagi ke sana. Para jamaah haji dan umrah yang berkunjung berulang kali merasakan kenikmatan serta ketenangan batin yang tidak dapat dilukiskan dengan kata-kata. Mekah merupakan negeri yang paling dicintai oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Kota Mekah memiliki kedudukan yang sangat tinggi hingga Allah Subhanahu wa Ta'ala bersumpah dengan menyebut nama kota ini di dalam Al-Qur'an. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
لَا أُقْسِمُ بِهَٰذَا الْبَلَدِ . وَأَنتَ حِلٌّ بِهَٰذَا الْبَلَدِ
"Aku bersumpah dengan negeri ini (Mekah), dan engkau (Muhammad) bertempat di negeri ini." (QS. Al-Balad[90]: 1-2)
Setiap sumpah yang dinyatakan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala menunjukkan adanya keistimewaan dan kemuliaan pada sesuatu yang disebutkan dalam sumpah tersebut. Selain itu, Allah Subhanahu wa Ta'ala juga menyebut Mekah sebagai negeri yang aman dalam surah lainnya:
وَالتِّينِ وَالزَّيْتُونِ . وَطُورِ سِينِينَ . وَهَٰذَا الْبَلَدِ الْأَمِينِ
"Demi buah tin dan buah zaitun, demi bukit Sinai, dan demi negeri (Mekah) yang aman ini." (QS. At-Tin[95]: 1-3)
Penyebutan Mekah sebagai "Negeri yang Aman" menegaskan bahwa kota ini memiliki perlindungan khusus serta berbagai keutamaan yang tidak dimiliki oleh kota lain di dunia. Kota ini bukan sekadar destinasi perjalanan, melainkan tempat berlabuhnya keimanan dan ketenangan jiwa bagi setiap mukmin.
Mekah Sebagai Kota Tertua Dan Tanah Haram Yang Aman
Mekah merupakan kota tertua di dunia yang memiliki berbagai keistimewaan. Keutamaan yang pertama adalah di kota Mekah terdapat Baitullah, yaitu rumah ibadah yang pertama kali dibangun untuk manusia. Masjid yang paling tua di muka bumi adalah Masjidil Haram, kemudian disusul oleh Masjidil Aqsa. Jarak waktu pembangunan antara Masjidil Haram dan Masjidil Aqsa adalah empat puluh tahun. Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bahwa jarak antara keduanya adalah arba'una sanah (empat puluh tahun).
Mengenai siapa yang pertama kali membangun pokok-pokok dan pondasi Masjidil Haram, banyak ulama berpendapat bahwa para malaikatlah yang membangunnya, sementara sebagian lain menyatakan Nabi Adam 'Alaihissalam. Namun, mayoritas ahli tafsir sepakat bahwa para malaikat yang meletakkan pondasi awalnya. Baru kemudian pada zaman Nabi Ibrahim 'Alaihissalam, Allah Subhanahu wa Ta'ala memerintahkan untuk meninggikan bangunannya. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
وَإِذْ يَرْفَعُ إِبْرَاهِيمُ الْقَوَاعِدَ مِنَ الْبَيْتِ وَإِسْمَاعِيلُ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا ۖ إِنَّكَ أَنتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ
"Dan (ingatlah) ketika Ibrahim meninggikan pondasi Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa), 'Ya Tuhan kami, terimalah (amal) dari kami. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui'." (QS. Al-Baqarah[2]: 127)
Ayat tersebut menjelaskan bahwa Nabi Ibrahim 'Alaihissalam hanya bertugas meninggikan bangunan Ka'bah, bukan membangunnya dari awal, karena pondasinya telah diletakkan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala. Oleh karena itu, Ka'bah atau Baitul Atiq merupakan rumah ibadah pertama yang dibangun di dunia.
Dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim, diriwayatkan dari hadits Abu Dzar Radhiyallahu 'Anhu bahwa ia bertanya kepada Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam mengenai masjid yang pertama kali diletakkan di muka bumi. Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda:
الْمَسْجِدُ الْحَرَامُ
"Masjidil Haram." (HR. Bukhari dan Muslim)
Ketika ditanya masjid mana lagi setelah itu, beliau menjawab Masjidil Aqsa dengan jarak pembangunan empat puluh tahun. Berdasarkan riwayat ini, Masjidil Aqsa bukan pertama kali dibangun oleh Nabi Sulaiman 'Alaihissalam, karena jarak masa antara Nabi Ibrahim 'Alaihissalam dan Nabi Sulaiman 'Alaihissalam sangat jauh. Nabi Sulaiman 'Alaihissalam bertugas merenovasi atau membangun kembali bangunan tersebut.
Menelusuri sejarah Masjidil Haram sebagai pondasi pertama ketaatan di muka bumi menyadarkan kita bahwa perjalanan ke Baitullah adalah perjalanan menuju akar keimanan kita sendiri. Keamanan dan keberkahan yang Allah janjikan di Tanah Haram menjadikan setiap detik ibadah di sana sebagai investasi akhirat yang tak ternilai. Jangan biarkan kerinduan Anda hanya menjadi angan-angan. Wipa Tour hadir untuk membantu Anda menjawab panggilan Allah tersebut dengan layanan yang amanah dan bimbingan yang sesuai Sunnah. Mari wujudkan perjalanan spiritual Anda menuju Makkah yang aman dan Madinah yang menenangkan. Segera rencanakan ibadah Umrah dan Haji Anda bersama Wipa Tour, mitra perjalanan yang peduli pada kemurnian ibadah dan kenyamanan Anda.