Kemuliaan Tiga Masjid Suci dalam Islam

Kategori : Kajian, Ditulis pada : 27 Januari 2026, 14:21:26

Ibadah Haji dan Umrah bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan napak tilas peristiwa agung dalam sejarah kenabian. Salah satu momen paling sakral adalah Isra Mi'raj, di mana Rasulullah ﷺ diperjalankan dari Masjidil Haram menuju Masjidil Aqsa menggunakan Buraq. Peristiwa ini tidak hanya menunjukkan kekuasaan Allah, tetapi juga menetapkan kedudukan istimewa tiga masjid utama yang menjadi tujuan utama perjalanan ibadah seorang Muslim. Memahami makna di balik kendaraan Buraq dan syariat mengenai perjalanan jauh (syaddur rihal) akan membantu jamaah meluruskan niat bahwa satu-satunya perjalanan religi yang memiliki keutamaan khusus adalah menuju masjid-masjid yang diberkahi-Nya.

Dari Mekah, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam berangkat mengendarai Buraq, seekor binatang berwarna putih yang ukurannya berada di antara keledai dan bagal (bigal). Bagal sendiri merupakan hewan hasil persilangan antara keledai dan kuda. Peristiwa luar biasa ini dimulai dari tanah suci Mekah, menegaskan kembali kemuliaan kota tersebut di hadapan Allah 'Azza wa Jalla sebagai titik tolak perjalanan menuju langit yang tinggi.

Buraq merupakan binatang berwarna putih yang ukurannya berada di atas keledai namun di bawah bagal (bigal). Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam menjelaskan bahwa satu loncatan Buraq sejauh mata memandang. Penggambaran Buraq dengan kepala perempuan merupakan bentuk penghinaan terhadap Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam, karena Buraq adalah murni makhluk berbentuk binatang yang diciptakan Allah Subhanahu wa Ta'ala. Melalui Buraq, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam dibawa menuju Masjidil Aqsa untuk mengimami para nabi shalat berjamaah, kemudian naik ke langit sebelum akhirnya kembali ke kota Mekah. Peristiwa agung ini diabadikan dalam Al-Qur'an:

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا ۚ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ 

"Mahasuci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat." (QS. Al-Isra[17]: 1)

Larangan Mengadakan Perjalanan Ibadah ke Tempat Keramat

Keutamaan Mekah lainnya berkaitan dengan aturan mengadakan perjalanan jauh (syaddur rihal). Secara syariat, seseorang dilarang melakukan perjalanan jauh dengan tujuan ibadah atau mendatangi tempat yang dianggap keramat, kecuali ke tiga masjid utama. Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda:

لَا تُشَدُّ الرِّحَالُ إِلَّا إِلَى ثَلَاثَةِ مَسَاجِدَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَمَسْجِدِ الرَّسُولِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمَسْجِدِ الْأَقْصَى 

"Janganlah melakukan perjalanan jauh (untuk ibadah) kecuali ke tiga masjid: Masjidil Haram, masjid Rasulullah (Masjid Nabawi), dan Masjidil Aqsa." (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam Musnad Imam Ahmad, dikisahkan bahwa Abu Hurairah Radhiyallahu 'Anhu pernah pergi ke Bukit Thur untuk shalat di sana. Di tengah perjalanan pulang, ia bertemu Abu Basrah yang kemudian menegurnya. Abu Basrah menyatakan bahwa seandainya mereka bertemu sebelum Abu Hurairah berangkat, ia akan melarangnya karena telah mendengar hadits Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam mengenai larangan perjalanan jauh kecuali ke tiga masjid tersebut.

Hal ini memberikan kejelasan bahwa perjalanan yang dilarang adalah perjalanan menuju tempat yang dikeramatkan atau dianggap memiliki keutamaan ibadah khusus di luar tiga masjid tersebut. Adapun perjalanan jauh untuk menuntut ilmu diperbolehkan, sebagaimana dicontohkan oleh Nabi Musa 'Alaihissalam saat mencari Nabi Khidir 'Alaihissalam, serta praktik para sahabat dan ulama yang telah menjadi ijma. Begitu pula perjalanan untuk tujuan tamasya atau wisata diperbolehkan selama tidak ada keyakinan bahwa tempat yang dikunjungi adalah tempat keramat atau suci.

Memuliakan tiga masjid utama—Masjidil Haram, Masjid Nabawi, dan Masjidil Aqsa—adalah bagian dari ketaatan kepada tuntunan Rasulullah ﷺ. Dengan menjauhi praktik perjalanan ke tempat keramat yang tidak memiliki dasar syariat, kita menjaga kemurnian tauhid dan keberkahan ibadah kita. Wipa Tour siap menjadi jembatan bagi Anda untuk menunaikan perjalanan suci yang sesuai Sunnah menuju Tanah Haram. Mari wujudkan niat mulia Anda untuk bersujud di masjid-masjid yang diberkahi Allah dengan pelayanan amanah dan bimbingan yang membekali hati. Segera agendakan keberangkatan Haji dan Umrah Anda bersama Wipa Tour, travel terpercaya yang mengutamakan kenyamanan dan kemurnian ibadah Anda.

Chat Dengan Kami
built with : https://erahajj.co.id