Umrah Sesuai Sunnah

Kategori : Umrah, Ditulis pada : 15 Januari 2026, 11:46:18

Pada artikel ini, dijelaskan mengenai cara melaksanakan umrah sesuai dengan sunnah-sunnah Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam. Ketika nanti disampaikan tata cara umrah yang dipelajari dari sunnah dan didapati adanya perbedaan, maka ketahuilah bahwa perbedaan itu disebabkan materi ini disampaikan murni sesuai dengan apa yang dipelajari dari para ahli ilmu, melalui buku-buku mereka, dan belajar langsung dari lisan mereka.

Kami sampaikan materi ini sesuai dengan ilmu yang telah dipelajari. Apabila ditemukan perbedaan dalam praktik, silakan ditanyakan. Pertanyaan mengenai praktik yang berbeda akan dijawab, InsyaAllahu Ta'ala.

Tata Cara Pelaksanaan Umrah Sesuai Sunnah Nabi

Pelaksanaan ibadah umrah adalah melaksanakan tiga rukun utama. Tiga rukun ibadah umrah tersebut adalah: Ihram, Tawaf, Sa’i.

1. Ihram

Ihram adalah rukun yang dimulai dengan:

Bagi laki-laki, mengenakan pakaian ihram, yaitu dua lembar pakaian putih, satu untuk bagian atas dan satu untuk bagian bawah, tanpa mengenakan pakaian lainnya.

Memulai masuk dalam ibadah umrah dengan melafazkan niat:

لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ عُمْرَةً

“Aku sambut panggilan-Mu ya Allah untuk berumrah.”

Begitu melafazkan niat tersebut dalam kondisi sudah siap berpakaian ihram, maka jemaah telah masuk dalam ibadah ihram.

Pakaian Ihram:

Laki-laki: Mengenakan pakaian ihram khusus (seragam internasional), dua lembar kain putih tanpa jahitan.

Perempuan: Baju yang dipakai sehari-hari sudah bisa digunakan untuk ihram, asalkan menutup aurat.

Ibadah ihram ini berakhir sampai akhir perjalanan umrah, yaitu sampai selesai tawaf, selesai sa’i, dan kemudian potong rambut atau mencukur gundul (tahallul).

2. Tawaf

Tawaf adalah mengelilingi Ka’bah sebanyak tujuh kali putaran. Saat ini, sudah umum dilihat orang-orang yang sedang berputar di sekeliling Ka’bah, itulah ibadah tawaf.

3. Sa'i

Sa’i adalah berjalan antara Bukit Shafa dan Bukit Marwah sebanyak tujuh kali.

Perhitungannya adalah sebagai berikut:

  • Dari Shafa ke Marwah dihitung satu kali.
  • Dari Marwah kembali ke Shafa dihitung dua kali.

Perjalanan Sa'i berakhir ketika telah dilakukan sebanyak tujuh kali (bukan tujuh putaran).

Ketiga ibadah ini—Ihram, Tawaf, dan Sa’i—jika telah dikerjakan, maka ibadah umrah telah selesai dilaksanakan.

Durasi Pelaksanaan Umrah

Total waktu yang dibutuhkan untuk melaksanakan ibadah umrah, dimulai dari berangkat dari Madinah sampai selesai seluruh rangkaian, jika dilaksanakan secara langsung tanpa berhenti (nonstop) adalah sekitar delapan jam.

Rinciannya adalah sebagai berikut:

  • Perjalanan dari Madinah menuju Makkah: lebih kurang 5 jam.
  • Tawaf dan Sa’i: lebih kurang 3 jam.

Total waktu umrah sesungguhnya hanyalah 8 jam. Namun, waktu perjalanan yang dihabiskan selama berhari-hari (misalnya 9 hari) adalah waktu tambahan untuk menikmati shalat di Masjid Nabawi, menikmati kota Madinah, dan menikmati ibadah-ibadah lainnya di Masjidilharam. Umrah yang sebenarnya hanya membutuhkan waktu 8 jam saja.

Kami sengaja membuat tiga poin penting ini (tiga rukun) terlebih dahulu agar kita memahami bahwa ibadah umrah hanyalah menjalani dan melaksanakan ketiga rukun tersebut.

Sunnah-Sunnah Ihram

Sebelum ibadah ihram dimulai, terdapat hal-hal yang disebut sunnah-sunnah ihram yang disunnahkan untuk dikerjakan. Meskipun disebut sunnah, sangat dianjurkan untuk melaksanakannya demi mendapatkan ibadah yang maksimal.

Perjalanan yang ditempuh telah menghabiskan biaya sekian juta rupiah, menempuh perjalanan sekian ribu kilometer, dan lelah yang dirasakan sekian lama. Sangat disayangkan jika ibadah tidak dilaksanakan secara maksimal.

Ibadah umrah adalah ibadah yang langka. Meskipun ada yang mampu berumrah setiap tahun, frekuensi sekali setahun tetap dianggap langka jika dibandingkan dengan shalat, infak, atau puasa yang bisa dilakukan lebih sering. Mengingat mayoritas manusia tidak berumrah setiap tahun, bahkan sekali seumur hidup, maka walaupun hal-hal ini disebut sunnah-sunnah ihram, tetap dilaksanakan dan jangan diabaikan.

Sunnah-sunnah ihram yang dianjurkan untuk dilaksanakan adalah:

  • Potong kuku.
  • Rapikan kumis.
  • Cabut atau cukur bulu ketiak. Mencabut bulu ketiak adalah yang terbaik, jika tidak mampu, maka dicukur.
  • Cukur bulu kemaluan.
  • Mandi.
  • Memakai parfum di badan (khusus laki-laki), tidak boleh di pakaian ihram. Dianjurkan menggunakan parfum nonalkohol untuk menghindari perselisihan pendapat (khilaf) mengenai kebolehan parfum beralkohol. Parfum digunakan di badan, dan tidak boleh sekali-kali digunakan pada pakaian ihram.

Pelaksanaan sunah-sunah ihram dilakukan di hotel tempat menginap, misalnya di hotel Madinah. Sunah-sunah ini menampakkan keharusan untuk bersih dan bersiap diri sebelum melaksanakan ibadah umrah. Hal ini karena ibadah umroh adalah:

  • Momen untuk menghadap Allah Azza wa Jalla.
  • Dilakukan di tempat terbaik di permukaan bumi.
  • Tawaf di satu-satunya tempat di permukaan bumi yang diizinkan untuk tawaf, yaitu Ka’bah.

Sebagaimana seseorang yang akan menghadap pemimpin tertinggi negara, ia akan berusaha bersih dan rapi. Demikian pula, Allah Azza wa Jalla lebih berhak bagi kita untuk bersih-bersih ketika menghadap-Nya. Jelas terlihat bahwa semua sunnah-sunnah ihram bertujuan untuk bersih-bersih dan rapi-rapi.

Pakaian Ihram

Pakaian Ihram Laki-laki

Setelah semua sunnah ihram selesai dilakukan, laki-laki mulai memakai pakaian ihram. Pakaian ihram ini terdiri dari dua lembar pakaian putih polos, satu untuk bagian atas dan satu untuk bagian bawah.

1. Pakaian Ihram Bagian Bawah

Cara pemasangan pakaian ihram bagian bawah bebas, yang terpenting adalah aurat tertutup. Kain dapat dililit, dilipat, atau digulung jika terlalu panjang.

Penggunaan Ikat Pinggang: Boleh menggunakan ikat pinggang, termasuk ikat pinggang berjahit, untuk mengikat kain ihram bagian bawah. Tidak ada larangan khusus mengenai ikat pinggang berjahit dalam keadaan ihram.

2. Pakaian Ihram Bagian Atas

Pakaian ihram bagian atas harus menutup kedua bahu (kanan dan kiri). Namun, nanti ketika melaksanakan tawaf, pakaian akan diselempangkan di bawah ketiak (menampakkan bahu kanan) dalam posisi yang disebut idtiba’. Ini akan dipraktikkan kemudian.

Perlu ditekankan, cara memakai pakaian ihram bagian bawah yang disampaikan ini murni berdasarkan pengalaman, bukan tuntunan sunnah yang baku mengenai lipatan kain. Ada dua hal yang harus dihindari ketika berpakaian ihram bagian bawah:

  • Aurat mudah terbuka.
  • Langkah kaki terhalang.

Oleh karena itu, cara yang diajarkan ini bertujuan untuk mengatasi kedua kendala tersebut, karena pakaian ihram harus benar-benar polos, hanya dua lembar kain tersebut, tanpa pakaian dalam, untuk menghindari hal-hal yang dapat mengganggu kelancaran berjalan dan menghindari terbukanya aurat.

Pakaian Ihram Perempuan

Pakaian ihram bagi muslimah pada dasarnya memenuhi kriteria busana muslimah yang telah ditetapkan oleh syariat. Kriteria tersebut meliputi tiga hal pokok:

  • Menutup seluruh aurat.
  • Lapang dan tidak sempit.
  • Tidak transparan.

Apabila pakaian yang dikenakan memenuhi tiga kriteria ini, maka sudah sah digunakan untuk berihram. Tiga kriteria ini sama dengan kriteria pakaian yang sah digunakan muslimah saat mendirikan shalat.

Namun, kami menganjurkan para ibu untuk mengenakan seragam WIPA TOUR saat berihram. Hal ini dikarenakan identitas kelompok hanya ada pada pakaian muslimah. Kami, kaum laki-laki, mengenakan pakaian ihram yang seragam secara internasional—dua helai kain putih tanpa jahitan—sehingga kami tidak lagi dapat dikenali sebagai bagian dari grup tertentu. Pakaian ihram laki-laki dikenakan oleh semua orang dari berbagai negara, baik Amerika, Afrika, Eropa, maupun Timur Tengah. Oleh sebab itu, identitas grup kita hanya dapat dikenali melalui seragam yang dikenakan ibu-ibu. Harapannya, hal ini akan mempermudah kita saat ada anggota grup yang terpisah atau tercecer. Anjuran ini bukanlah kewajiban syariat, tetapi sekadar harapan untuk kemaslahatan bersama.

Perlu diperhatikan, saat mengenakan baju ihram, hendaknya kaum muslimah berhati-hati dengan model pakaian yang lengan bajunya mudah tersingkap (tidak menggunakan manset). Lengan adalah bagian dari aurat. Jika lengan baju mudah turun, lengan kita akan terlihat. Oleh karena itu, penggunaan manset sangat penting agar aurat tetap tertutup, bahkan ketika lengan baju bergeser ke bawah.

Pakaian ihram juga harus lapang, karena pakaian yang sempit sama saja tidak memenuhi kriteria busana muslimah karena masih membentuk lekuk tubuh. Demikian pula, pakaian tidak boleh transparan.

Menuju Miqat dan Memulai Ihram

Setelah bersiap, kita berangkat menuju miqat. Miqat adalah tempat yang ditentukan untuk memulai ihram. Dari hotel di Madinah, jarak menuju miqat (tempat miqat yang dituju adalah Bir Ali) adalah sekitar 14 kilometer menjelang Makkah.

Sesampainya di Bir Ali, disunatkan untuk mengerjakan shalat sunah dua rakaat. Setelah shalat sunnah dua rakaat, kita mulai mengucapkan niat ihram saat bergerak menuju Makkah dengan mengucapkan:

لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ عُمْرَةً

"Aku sambut panggilan-Mu, ya Allah, dengan melaksanakan Umroh."

Bagi muslimah yang Allah takdirkan sedang haid, tetap mengucapkan niat ini dan tetap berihram seperti yang lainnya. Namun tidak melaksanakan shalat.

Disunnatkan pula bagi kita untuk mengucapkan isytirat, yaitu sebuah kalimat pengandaian:

فإِ نْ حَبَسَنِِي حَا بِسٌ فَمَحَلّي حَيْثُ حَبَسْتَنِيْ

"Ya Allah, jika ada halangan yang menghalangiku, maka aku akan bertahalul di tempat terhalangnya aku."

Ini disunnahkan untuk diucapkan.

Setelah itu kita bertalbiyah.

لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ، لَبَّيْكَ لاَ شَرِيْكَ لَبَّيْكَ، إِنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالْمُلْكَ لاَ شَرِيْكَ لَكَ

Dengan mengucapkan talbiyah di miqat, kita sudah masuk dalam keadaan berihram. Talbiyah ini terus diucapkan selama kurang lebih 5 jam perjalanan sampai kita tiba di Makkah.

Setelah memasuki ibadah ihram di miqat (setelah mengucapkan Labbaik Allahumma 'Umratan), berlaku larangan-larangan ihram yang wajib kita hindari.

Selanjutnya: Larangan-Larangan Ihram

Chat Dengan Kami
built with : https://erahajj.co.id