Tawaf
Tawaf merupakan puncak kerinduan bagi setiap jiwa yang bertamu ke rumah Allah. Berjalan mengelilingi Ka’bah sebanyak tujuh kali putaran bukan sekadar aktivitas fisik, melainkan sebuah bentuk ibadah yang melambangkan ketaatan total seorang hamba kepada Sang Pencipta. Mengingat kedudukannya yang setara dengan shalat, memahami tata cara Tawaf yang benar sesuai Sunnah adalah hal yang sangat krusial. Mulai dari titik awal di Hajar Aswad hingga rahasia di balik doa-doa yang dipanjatkan, berikut adalah panduan lengkap agar Tawaf Anda tidak hanya sah secara syariat, tetapi juga mendalam secara spiritual.
Tawaf adalah ibadah mengelilingi Ka’bah sebanyak tujuh kali putaran. Titik awal memulai tawaf adalah Hajar Aswad. Satu putaran dihitung apabila telah kembali lagi ke titik Hajar Aswad tersebut.
Jika memperhatikan struktur Ka'bah, bangunan ini memiliki empat sudut dan empat dinding. Pada tiga dinding pertama, jamaah dianjurkan untuk memperbanyak doa dan dzikir. Sementara itu, pada satu dinding terakhir sebelum mencapai kembali Hajar Aswad, jamaah membaca doa sapu jagat.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
"Wahai Rabb kami, berikanlah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari azab neraka (QS. Al-Baqarah[2]: 201).
Teknis pelaksanaan tawaf dimulai dengan menyejajarkan posisi tubuh dengan Hajar Aswad di pojok Ka’bah. Sambil melambaikan tangan ke arah Hajar Aswad, jamaah membaca Bismillahi Allahu akbar. Setelah posisi sejajar dan melambai, jamaah mulai bergerak sambil berdoa serta berdzikir di sepanjang tiga sudut dinding Ka’bah.
Ketika sampai pada pojok dinding yang terakhir sebelum Hajar Aswad, sudut tersebut dinamakan Rukun Yamani. Di sepanjang dinding antara Rukun Yamani hingga Hajar Aswad, jamaah membaca doa Rabbana atina fid dunya hasanah wa fil akhirati hasanah wa qina adzaban nar. Satu putaran tawaf dianggap selesai setelah sampai kembali di hadapan Hajar Aswad. Jamaah kemudian melambaikan tangan lagi sambil mengucap Bismillahi Allahu akbar tanpa perlu menciumnya, lalu melanjutkan putaran berikutnya dengan pola yang sama hingga genap tujuh putaran.
Bagi laki-laki, saat melakukan tawaf, lengan kanan harus dalam keadaan terbuka (idhthiba). Selain itu, tawaf harus dilakukan dalam keadaan berwudhu layaknya shalat. Sebelum memulai tawaf, jamaah sebaiknya menuju toilet terlebih dahulu untuk membersihkan diri kemudian berwudhu agar kesuciannya terjaga. Hal ini didasarkan pada sabda Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam:
الطَّوَافُ حَوْلَ الْبَيْتِ مِثْلُ الصَّلَاةِ إِلَّا أَنَّكُمْ تَتَكَلَّمُونَ فِيهِ
"Tawaf mengelilingi Ka’bah itu seperti shalat, hanya saja kalian boleh berbicara di dalamnya (HR. Tirmidzi).
Konsekuensinya, wanita yang sedang haid tidak diperbolehkan melakukan tawaf karena sedang tidak dalam keadaan suci. Saat tiba di miqat Bir Ali, wanita haid tetap mengucapkan niat Labaik allahumma umratan. Namun, ketika grup jamaah pergi melaksanakan tawaf, wanita tersebut harus tetap berada di kamar, tidak ikut serta, dan tetap menjaga larangan ihram. Ibadah tawaf dan Sai baru boleh dilaksanakan setelah masa haid selesai dan ia telah bersuci.
Perlu dipahami bahwa ibadah Sai hanya boleh dilakukan apabila tawaf telah selesai dilaksanakan secara sempurna. Seseorang tidak boleh mendahulukan Sai sebelum tawaf. Bagi wanita yang baru selesai haid, pelaksanaan tawaf dan Sai nantinya akan ditemani oleh mahram, pemimpin perjalanan (tour leader), atau mutawif.
Sebagai ringkasan, tawaf adalah mengelilingi Ka’bah sebanyak tujuh putaran yang dimulai dari Hajar Aswad dengan isyarat melambaikan tangan sambil mengucap Bismillahi Allahu akbar. Tiga dinding pertama diisi dengan doa dan dzikir bebas, kemudian dinding terakhir antara Rukun Yamani hingga Hajar Aswad diisi dengan doa Rabbana atina fid dunya hasanah wa fil akhirati hasanah wa qina adzaban nar.
Bacaan tawaf dari titik Hajar Aswad sampai Rukun Yamani dapat diisi dengan dzikir dan doa secara bebas. Anda diperbolehkan membaca doa apa saja, baik doa-doa yang terdapat dalam Al-Qur'an maupun doa-doa yang ada dalam hadits. Syarat utamanya adalah memahami arti doa tersebut. Berdoa merupakan aktivitas meminta kepada Allah 'Azza wa Jalla, sehingga tidak tepat apabila seseorang meminta sesuatu namun ia sendiri tidak memahami apa yang diucapkannya.
Jika tidak ada ayat atau hadits yang dihapal, berdoalah menggunakan bahasa yang dikuasai, seperti bahasa Indonesia, bahasa Jawa, bahasa Sunda, bahasa Makassar, atau bahasa apa pun. Allah Subhanahu wa Ta'ala adalah pencipta seluruh bahasa dan Dia Maha Mengerti segala bahasa. Hal yang terpenting adalah menghayati doa tersebut di dalam hati dan bersikap khusyuk.
Inilah kemudahan dalam agama Islam. Di beberapa buku manasik, sering ditemukan doa khusus untuk putaran pertama hingga ketujuh, baik dalam tawaf maupun Sai. Doa-doa yang sangat panjang tersebut tidak memiliki asal-usul dari Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam, melainkan karangan manusia. Meskipun maksud pembuatnya adalah menganjurkan doa, banyak orang yang keliru menganggap doa-doa tersebut sebagai bacaan wajib. Kenyataannya, jamaah bebas memanjatkan permintaan masing-masing sesuai dengan masalah dan keluhan yang dimiliki. Mintalah kebaikan dunia dan akhirat kepada Allah 'Azza wa Jalla sebagaimana firman-Nya:
ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ
"Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu." (QS. Ghafir[40]: 60).
Setelah menyelesaikan tujuh putaran tawaf, jamaah laki-laki kembali menutup lengan kanannya. Meskipun terdapat sunnah berlari-lari kecil pada tiga putaran pertama bagi laki-laki, hal ini sulit dilakukan jika berada dalam rombongan besar yang menyertakan jamaah wanita. Jika jamaah laki-laki berlari kecil, dikhawatirkan jamaah wanita akan tertinggal dan rombongan terpisah. Para ulama menganjurkan agar laki-laki dalam perjalanan grup tidak perlu berlari kecil demi menjaga keutuhan rombongan.
Shalat sunnah setelah tawaf dan minum air zamzam
Setelah tawaf, jamaah disunnahkan melaksanakan shalat dua rakaat di belakang Makam Ibrahim. Pada rakaat pertama setelah Al-Fatihah, bacalah surat Al-Kafirun, dan pada rakaat kedua setelah Al-Fatihah, bacalah surat Al-Ikhlas. Setelah shalat sunnah tawaf, jamaah dianjurkan minum air zamzam. Terdapat tiga sunnah dalam meminumnya: pertama, berdoa sebelum minum; kedua, meminum airnya; dan ketiga, membasahkan sebagian anggota tubuh seperti wajah, kepala, dan dada.
Selanjutnya: Sai antara Bukit Shafa dan Bukit Marwah
Lihat juga: Umrah Sesuai Sunnah
Menjalankan Tawaf dengan penuh kekhusyukan tanpa rasa khawatir akan teknis lapangan adalah dambaan setiap jamaah. Di Wipa Tour, kami memahami bahwa setiap putaran Anda di depan Ka’bah adalah momen yang sangat berharga. Oleh karena itu, kami menyediakan asatidzah pembimbing yang akan mendampingi Anda secara langsung, memastikan setiap rukun dan sunnah Tawaf terlaksana dengan sempurna sesuai tuntunan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam. Mari wujudkan perjalanan umroh yang penuh ilmu dan ketenangan bersama kami. Segera daftarkan diri Anda di Wipa Tour dan rasakan pengalaman ibadah yang tertata, nyaman, dan berkesan di Tanah Suci.